SOB Rilis Film Perdana ‘Bergembira Sampai Muntah’

oleh
Personil Scare of Bums. (Foto: Mkf)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Grup band bergenre punk rock, Scared of Bums (SOB), memperkenalkan film perdana mereka bertajuk Bergembira Sampai Muntah kepada awak media di Denpasar, Rabu (6/12/2017).  Dalam acara jumpa pers ini, SOB juga meluncurkan video klip yang berjudul Kepalkan Tangan Kiri.

Rencananya, pemutaran perdana film Bergembira Sampai Muntah ini dilakukan pada 8 Desember 2017 di Pamuke Festival, areal parkir Banjar Kedaton Sumerta, Denpasar, Bali.

Film dokumenter ini bercerita tentang sisi pribadi  SOB yang beranggotakan Eka (vokal/gitar), Arx (bass, backing vocal), Eka (lead guitar), dan Nova (drums). Film ini merupakan apresiasi bagi SOB yang sudah 14 tahun berkarya di kancah musik lokal dan nasional.

Film ini menampilkan banyak testimoni dari orang-orang terdekat SOB seperti orang tua, sahabat,  produser, dan musisi-musisi lainnya. Di lain segmen, film ini juga menampilkan behind the scene tour-tour SOB ke mancanegara. Erick Est sebagai sutradara film sekaligus produser yang membiayai pembuatan film ini meranciknya sangat baik.

Dalam rilisnya, Erick Est mengatakan konsep film ini sudah dibuat sejak setahun lalu. Selain itu, Erick Est menilai SOB selalu konsisten menyampaikan isu sosial di kalangan anak muda. Estmovie, kata dia, selalu mendukung siapapun yang menyampaikan pesan-pesan kepada masyarakat tentang isu-isu sosial seperti lingkungan, hak asasi manusia, dan kebebasan berekspresi.

Eka, gitaris SOB, mengapresiasi film dokumenter dan video klip yang segara dipublikasikan. Menurut dia, SOB hanya menceritakan apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-sehari.

“Kita cuma menceritakan kehidupan kita sehari-hari. Apalagi sekarang banyak macam media, sehingga informasi itu sangat mudah kita dapat. Dalam perjalanam yang kita lalui sehari-hari, kita masih menemukan hal yang terasa janggal. Mulai dari masalah sosial yang tidak jauh dari kita. Kemudian, masalah sosial itu yang kita angkat. Kebetulan di Bali ada pergerakan tolak reklamasi. Kita ikut mendukung sesuatu yang menurut kita benar,” ucapnya.

Nova, drumer SOB, mengatakan genre musik punk rock yang mereka tekuni sejak 1980-an merupakan simbol perlawanan. Itu pula yang membuat SOB selalu konsisten menyuarakan ketimpangan yang terjadi di negeri ini.

Nova berharap musik yang ditampilkan SOB bisa membangkitkan kesadaran masyarakat dan pemerintah tentang betapa pentingnya melestarikan alam. (Mkf/Sir)