Sambut Kendaraan Listrik, PLN Bali Sudah Bangun 127 SPLU

oleh
Salah satu Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) di Bali. (Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Provinsi Bali terus berbenah guna mengantisipasi perkembangan teknologi. Untuk menghadapi era baru penggunaan kendaraan listrik, misalnya, PLN Unit Induk Distribusi Bali telah membangun 127 Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) yang tersebar di sejumlah titik di Bali.

“Program penambahan Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU)ini  masih terus dilakukan. Saat ini sudah ada 127 SPLU di seluruh Bali,” kata Nyoman Suwarjoni Astawa, General Manager PLN Unit Induk Distribusi Bali.

Di antara SPLU yang disediakan, menurut dia, sudah termasuk dua unit SPLU yang disiapkan untuk pengguna mobil listrik. “Untuk mobil listrik memang belum ada yang menggunakannya, tapi tetap kami siapkan,” kata Suwarjoni.

Sejak Oktober 2019, sudah tersedia SPLU mobil listrik, satu di antaranya berada di seberang Tiara Dewata Denpasar atau depan kantor PLN UP3 Bali Selatan. Hal ini berbeda dengan sepeda motor listrik yang beberapa merk sudah merilis produknya di Pulau Dewata.

Bahkan SPLU untuk sepeda motor sudah mulai diperkenalkan sejak 2016. Sejauh ini penyebaran terbanyak ada di Bali Selatan yang meliputi Denpasar, Badung, dan Tabanan. “Hingga kini sudah terpasang 52 SPLU,” kata Manajer Pemasaran PLN UP3 Bali Selatan, I Wayan Eka Susana, Rabu (13/11/2019).

Eka mengungkapkan PLN UID Bali, terutama area Bali Selatan, sudah siap terkait segi infrastruktur kendaraan listrik. “Saat ini kami juga sedang membangun SPLU untuk mobil listrik di titik lainnya. Pertama di pintu masuk Pelabuhan Benoa yang progresnya sudah mencapai 50 persen. Satu tempat lagi kami rencanakan di Beach Walk Kuta masih dalam proses perizinan,” ungkapnya.

Lalu berapa lama pengisian listrik yang bisa dilakukan pengguna mobil listrik? Ternyata tidak membutuhkan waktu hitungan jam, karena ada fitur Ultra Fast Charging diaplikasikan pada SPLU dimaksud.  “Untuk charging mobil listrik kurang lebih sekitar 15 menit. Model pengisiannya juga ada AC dan DC, dua-duanya bisa,” kata Eka.

SPLU yang menjadi infrastruktur ramah lingkungan ini ada dua tipe, yaitu tipe hook yang dapat ditemui di tiang-tiang milik PLN, dan tipe standing yang menjadi bangunan tersendiri. “Pada awalnya memang digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat di tempat umum, seperti untuk para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) atau pedagang kaki lima (PKL). Tapi SPLU ini juga kami siapkan dapat digunakan untuk mengisi ulang baterai kendaraan listrik,” ungkap Eka.

Seiring tumbuhnya minat masyarakat dengan kendaraan listrik, pihaknya akan mengakomodir permintaan masyarakat terkait pemasangan SPLU di titik-titik lain. Lokasi SPLU ini dapat ditemukan lewat aplikasi Google Maps dengan kata kunci ‘SPLU PLN’.

Adapun pengisian baterai menggunakan token sebagaimana listrik prabayar. “Kami akan pasang di titik-titik strategis sesuai permintaan masyarakat. Nantinya, kan bisa nge-charge sambil ditinggal tetap beraktivitas,” ujarnya.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Bali menerbitkan regulasi baru berupa Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 48 Tahun 2019 tentang Penggunaan Kendaraan Bermotor Listrik (KBL) Berbasis Baterai. Kebijakan ini diarahkan untuk menjaga kelestarian lingkungan alam Bali, mendukung program pemerintah untuk efisiensi energi dan pengurangan polusi di bidang transportasi.

Gubernur  Bali Wayan Koster menyebut Pergub ini juga mendorong kesiapan infrastruktur kendaraan listrik di Bali untuk percepatan peralihan dari kendaraan berbahan bakar minyak fosil ke KBL Berbasis Baterai. (*)