Petugas Karantina Bali Tolak Tanduk Rusa yang Dibawa Bule Rusia

oleh
Petugas Karantina Wilayah Kerja Bandara International I Gusti Ngurah Rai menolak tanduk rusa yang dibawa wisatawan asal Rusia karena tidak dilengkapi dokumen. (Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Keunikan ukiran Bali memang tidak bisa dipungkiri. Siapapun bisa melihat hasil ukiran Bali yang banyak terpampang pada patung-patung, pintu, meja, kursi atau tanduk-tanduk dari hewan.

Banyak wisatawan domestik dan mancanegara yang membawa suvenir berupa ukiran ketika berkunjung ke Bali. Ini yang menjadi alasan Mr. Russel, wisatawan asal Rusia, yang Ingin memiliki ukiran antik dari tanduk rusa. Russel membawa beberapa tanduk rusa seberat 12 kilogram untuk diukir di Bali.

Namun, Russel mungkin merasa kecewa saat baru mendarat di Bali. Pasalnya, tanduk rusa yang dia bawa ditolak dan harus dikembalikan ke negaranya.

Saat diperiksa petugas karantina wilayah kerja Bandara International I Gusti Ngurah Rai, tanduk-tanduk rusa tersebut ternyata tidak dilengkapi sertifikat negara asal. Untuk itu, petugas karantina memberikan waktu kepada Russel untuk melengkapi surat-suratnya. Russel pun memilih untuk membawa kembali tanduk rusa itu ke negaranya.

Persoalan mungkin terlihat sepele, hanya membawa tanduk rusa. Namun, dalam Undang-Undang No. 16 Tahun 1992 jelas tertera tentang persyaratan membawa media pembawa, baik hewan dan produknya, harus dilengkapi sertifikat karantina dari daerah/negara asal. Ini untuk menjamin kesehatan media pembawa yang hendak dilalulintaskan.

“Lain kali saya akan balik lagi ke Bali. Saya sudah jatuh cinta dengan ukirannya, terima kasih informasinya,” ucap Russel saat dikawal membawa tanduknya kembali.

Membawa ukiran antik tidak akan dilarang, asal caranya juga harus cantik. Lapor ke petugas karantina, melalui tempat pemasukan/pengeluaran serta dilengkapi sertifikat karantina. (*)