Pengamat: Politik Puri dan Non-Puri Masih Kental di Bali

oleh
Ilustrasi. (Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Pengamat politik dari Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Bali Nyoman Subanda meminta PDIP Bali agar mencermati unsur historis dan sosiologis sikap politik Puri Satria Denpasar yang tidak memilih pasangan Cagub dan Cawagub yang diusung PDIP dalam Pilgub Bali 2018.

Dosen Undiknas tersebut menilai pilihan politik Puri Satria melalui figur Cok Rat bisa memengaruhi dukungan masyarakat Bali terhadap I Wayan Koster yang dijagokan PDIP.

“Bagaimana pun juga secara historis, PDIP itu tidak terlepas dari Puri Satria. Cok Rat sendiri adalah pelaku utama dalam membesarkan PDIP di Bali. Ketika tokoh Puri Satria memilih untuk tidak mendukung calon asal PDIP, maka tentu saja ini akan berdampak pada keterpilihan masyarakat pada kandidat asal PDIP,” ujarnya di Denpasar, Senin (8/1/2018).

Subanda juga menilai pernyataan Cok Rat yang lebih mendukung Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, bukan memilih partai yang mendukung Rai Mantra sebagai bentuk ekspresi kekecewaan Puri Satria terhadap kinerja PDIP Bali di bawah kepemimpinan Koster.

Pada saat yang sama, Cok Rat sebagai tokoh Puri Satria menganggap perjalanan karier politik Rai Mantra tidak terlepas dari peran Puri Satria. “Secara sosiologis, antara Rai Mantra dengan Puri Satria memiliki kedekatan tersendiri. Cok Rat mengangggap dialah yang membawa Rai Mantra terjun ke dunia politik dan menjadi besar seperti sekarang ini,” ujarnya.

Keterikatan secara politik itu harus dipahami, sehingga Puri Satria lebih mendukung Rai Mantra ketimbang mendukung Koster sekalipun kader PDIP.

Di pihak lain, Subanda menilai untuk konteks Bali, setiap perhelatan politik masih terikat politik Puri dan non-Puri. Puri di Bali bersama para tokohnya masih memiliki pengaruh yang besar terhadap demokrasi, terutama pemilihan pemimpin atau kepala daerah.

Puri masih menunjukkan pengaruhnya bagi seluruh keluarga besarnya dan warga sekitarnya. Mereka lebih memilih apa kata Puri ketimbang pilihan politiknya sendiri. Kondisi ini bisa berubah ketika masyarakat Bali, mulai dari kaum elite, berpendidikan, sampai dengan kelas bawah sudah memahami pilihan politiknya sendiri. Lalu, mereka menjatuhkan pilihannya sendiri tanpa terpengaruh dengan strata sosial budaya yang ada. (Ade/Sir)