Pelaku Pariwisata Bali Minta PVMBG Turunkan Status Gunung Agung

oleh
Gunung Agung. (Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Para pelaku usaha pariwisata di Bali meminta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menurunkan status Gunung Agung dari awas menjadi siaga. Sebab, status  awas yang diberlakukan hingga saat ini membuat sektor pariwisata Bali kurang bergairah.

Para pelaku usaha pariwisata menyampaikan permintaan tersebut saat bertemu dengan Gubernur Bali Made Mangku Pastika di Kantor Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Selasa (12/12/2017).

Ketua Asita Bali Ketut Ardhana mengatakan banyak destinasi wisata yang sebenarnya tidak terdampak. Namun, status Gunung Agung yang masih awas membuat pariwisata Bali secara umum ikut terdampak.

“Banyak destinasi di Bali yang sama sekali tidak kena dampak Gunung Agung. Tetapi faktanya, saat ini kunjungan wisatawan ke Bali terus merosot. Semua booking  kunjungan dialihkan ke Thailand, Malaysia, Singapura, dan beberapa negara lainnya,” ujarnya.

Secara resmi, menurut para pelaku usaha pariwisata, destinasi wisata yang terdampak erupsi Gunung Agung hanya dua persen. Itu pun hanya di wilayah Karangasem. Sementara destinasi wisata lainnya di Bali masih aman dikunjungi.

Menanggapi permintaan itu, Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengatakan Pemprov Bali tidak punya kewenangan untuk mengumumkan penurunan status Gunung Agung. Kewenangan itu, kata dia,  ada di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Gunungapi (PVMBG). “Saya tidak memiliki kewenangan untuk mengumumkan penurunan status awas itu,” ujarnya.

Namun, Pastika mengatakan status level 4 (awas) Gunung Agung hanya berlaku untuk wilayah radius 8 kilometer dan perluasan sektoral 10 kilometer.

“Di tempat lainnya aman saja. Bahkan, kita yang duduk di ruangan ini tidak ada level-nya. Aman-aman saja. Tidak ada pengaruhnya dengan Gunung Agung kalau pun suatu saat dia meletus,” ujarnya.

Menurut Pastika, ini yang harus dijelaskan kepada wisatawan bahwa level awas itu hanya di radius 8 kilometer dan perluasan sektoral 10 kilometer, sehingga hanya berdampak di 22 desa di Bali. Penjelasan ini perlu disampaikan kepada seluruh negara. “Bagaimana caranya, ya, silakan aturlah. Keluarkan biaya sedikitlah,” ujarnya. (Ade/Sir)