Pasukan Antiteror Ganyang ‘Teroris’ di Dermaga Timur Pelabuhan Benoa

oleh
Pasukan Antiteror Brimobda Bali memperagakan adegan penindakan teroris di Dermaga Timur Pelabuhan Benoa, Kamis (8/3/2028). (Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Suasana sontak mencekam. Sejumlah teroris tiba-tiba menyerang beberapa wisatawan yang hendak memasuki kapal pariwisata yang bersandar di Dermaga Timur Pelabuhan Benoa.

Situasi semakin tegang saat terdengar suara rentetan tembakan dan ledakan. Teroris menyerang petugas yang berjaga di pelabuhan.Teroris juga menguasai Terminal Domestik dan menyandera calon penumpang. Selain itu, teroris juga menyandera bus pengangkut wisatawan.

Beberapa saat kemudian, pasukan Antiteror Brimobda Bali tiba di lokasi penyanderaan. Mengenakan seragam serbahitam dan bersenjata laras panjang, pasukan Antiteror Brimoda Bali langsung melakukan penindakan. Pasukan Antiteror ini mengepung gedung Terminal Domestik dan melumpuhkan teroris.

Pasukan Antiteror Brimoda Bali juga menyergap beberapa teroris yang berada di dalam bus. Dalam waktu singkat, pasukan Antiteror berhasil menangkap semua teroris. Situasi pun kembali kondusif.

Berbagai adegan penyergapan teroris yang mirip kejadian nyata itu diperagakan anggota Polda Bali dalam kegiatan simulasi penanganan terorisme di Dermaga Timur Pelabuhan Benoa, Denpasar, Kamis (8/3/2018).

Bekerja sama dengan Jakarta Centre for Law Enforcement Cooperation (JCLEC), simulasi tersebut melibatkan 476 personel terdiri dari Brimob, Sabhara, Polair, Polantas, Dokkes, Reskrim, BPBD, Pemadam Kebakaran, dan Dinas Kesehatan.

Usai menyaksikan simulasi, Kapolda Bali Irjen Pol. Petrus Reinhard Golose mengatakan, personel Polda Bali melaksanakan pelatihan Marauding Terrorist Attack (MTA) Live Exercise in Seaport Benoa. Latihan ini terselenggara atas kerja sama dan partisipasi pihak JCLEC dan pemerintah Inggris sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam penanganan teror serta show of force penanganan organized crime, khususnya di wilayah Bali.

Selain itu, kata Kapolda, pelatihan tersebut merupakan bagian dari persiapan pengamanan acara IMF-WB Annual Meeting 2018 pada Oktober mendatang. “Pulau Bali yang dikenal sebagai The Tolerance of Island, The Peace of Island, dan The Beautifull of Island akan menjadi tempat berlangsungnya rapat tahunan tersebut. Diperkirakan 17 ribu orang dari 189 negara akan datang ke Bali,” ungkap Kapolda.

Lebih jauh Kapolda mengatakan pelaksanaan simulasi kali ini berbeda dengan simulasi yang digelar di Bandara Ngurah Rai beberapa waktu lalu. “Saat di Bandara Ngurah Rai menggunakan skenario. Sedangkan yang di sini (Pelabuhan Benoa) tanpa menggunakan skenario, tanpa latihan, dan dilakukan secara langsung atau alami,” ucapnya.

Jenderal bintang dua di pundak ini menyatakan secara keseluruhan kegiatan simulasi sudah berjalan dengan baik, karena baru pertama kali dilaksanakan di pelabuhan. Petugas kepolisian beserta stakeholder lainnya juga sudah melaksanakan tugas sesuai dengan SOP (Standar Operasional Prosedur).

Kapolda juga memberikan sejumlah koreksi atas kegiatan simulasi itu. Di antaranya penanganan korban harus cepat. Kemudian, pasukan khusus antiteror wajib melakukan negosiasi sebelum penyergapan dan ini sesuai ketentuan hukum yang berlaku tentang penanganan terorisme.

“Tadi dalam simulasi, pasukan khusus antiteror langsung melakukan penyergapan. Tentu hal ini menjadi koreksi bagi kami dalam penanggulangan terorisme,” tegasnya. (Sir)