Menikmati Udara Segar di Gunung Batur

oleh
Seorang turis nekat memanjat bebatuan untuk mendapat spot foto yang bagus di Gunung Batur. (Foto: Ketut Purnama)
banner 300250

Bangli, suarabali.com – Bali memiliki sejuta pesona. Banyak pilihan destinasi wisata di pulau seribu pura ini. Tak heran bila Bali termasuk daerah tujuan wisata favorit bagi wisatawan domestik dan mancanegara. Satu di antara sekian banyak destinasi wisata itu adalah Gunung Batur.

Informasi di Museum Geopark Batur yang ada di Bangli tertulis jika Pulau Bali berada di jalur cincin api. Banyak gunung api aktif di Pulau Dewata ini. Dua di antaranya adalah Gunung Batur dan Gunung Agung yang memiliki keistimewaan bagi masyarakat Bali.

Kedua gunung itu dianggap sebagai lingga buana atau lingga alam yang memiliki arti penting dalam kehidupan religi masyarakat Bali. Gunung Agung dianggap perwujudan Purusha (laki-laki) dan Gunung Batur dianggap sebagai wujud Pradhana (perempuan). Antara Purusha dan Pradhana tidak bisa dipisahkan, karena senantiasa bersinergi untuk melahirkan kesuburan dan menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat.

Kasubid Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur PVMBG Devi Kemal Syahbana mengatakan, Gunung Batur adalah salah satu gunung purba yang ada di Pulau Bali. Keberadaannya lebih tua dari Gunung Agung yang sempat erupsi di pengujung tahun 2018.

Foto: Ketut Purnama.

Menurut Devi, kedua gunung tersebut memiliki ikatan yang erat. Gunung Agung muncul di ‘pangkuan’ Gunung Batur pasca meletus ribuan tahun yang lalu.

“Yang lebih dulu, ya Gunung Batur. Jadi, bisa dikatakan jika Gunung Agung adalah anak dari Gunung Batur,” ujar Devi seperti dirilis kompas.com.

“Saat Gunung Agung erupsi pada Februari 1963, Gunung Batur juga mengalami peningkatan aktivitas pada September di tahun yang sama. Gunung Agung dan Gunung Batur berada pada satu garis lempengan,” tambahnya.

Namun, menurut Devi, tidak ada aktivitas kegempaan di Gunung Batur selama status Gunung Agung dinyatakan awas. Sejak zaman prasejarah, masyarakat percaya jika gunung, bukit, dan tempat yang lebih tinggi adalah tempat suci sebagai tempat tinggal arwah nenek moyang dan pusat kekuatan alam lainnya.

Hal tersebut bisa dilihat dari arah hadap sarkopagus atau jenazah tanpa wadah. Arah hadap atau letak kepala jenazah sebagian besar mengarah ke arah bukit atau gunung yang terdekat.

Selain itu, dalam kesehariannya, masyarakat Bali memandang gunung sebagai sumber kehidupan dan menjadi kawasan tangkapan air yang bagian lerengnya ditumbuhi hutan. Sebab, wilayahnya subur, banyak masyarakat yang tinggal di wilayah kaki gunung.

Kolam pemandian air panas. Foto: Hanjar

Nyoman Artha, warga yang tinggal di dekat Danau Batur, mengatakan lahan di sekitar Gunung Batur sangat subur. “Apa saja ditanam di sekitar sini pasti tumbuh bagus, termasuk bawang. Ini juga karena abu letusan Gunung Batur yang dulu-dulu,” tutur lelaki yang bekerja sebagai petani bawang di lereng Gunung Batur ini.

Saat Gunung Agung erupsi akhir tahun lalu, kondisi Gunung Batur masih baik-baik saja. Gunung yang terletak di Kintamani, Bangli ini menjadi salah satu tempat wisata yang ramai dikunjungi wisatawan.

Di wilayah Gunung Batur juga ada danau dengan nama yang sama, Danau Batur. Danau ini berada di area 1.050 mdpl dengan luas 16 kilometer persegi dengan kedalaman rata-rata 50,8 meter.

Berdasarkan data di Museum Geopark Batur, letusan pertama Gunung Batur terjadi pada 1804. Ketika itu terbentuk kawah utama di puncak. Pada 1821, terjadi letusan kedua dari kawah yang sama. Pada 1849 terjadi letusan dari kawah utama dan menghasilkan aliran lava ke arah selatan hingga ke tepi danau.

Foto: Hanjar

Antara periode 1994/1995 sampai tahun 2003, Gunung Batur meletus 5 kali, yaitu antara tahun 1994 hingga 1995. Letusan berikutnya terjadi tahun 1997, 1998, 1999, dan 2000. Letusan yang terjadi pada 1998 membentuk kawah baru yang dikenal dengan Kawah 98.

Pemandangan Gunung Batur dan eksotisme Danau Batur dapat dilihat dari Desa Penelokan. Di tempat ini juga terdapat pemandian air panas alami di Desa Toya Bungkah. Tak heran bila wisatawan betah berlama-lama di daerah ini untuk menikmati iklim yang sejuk dan udara segar khas daerah pegunungan.

Para pelancong juga dapat menikmati hidangan makan dengan menu khas ikan nyatnyat sambil melihat keindahan pemandangan Danau Batur dan Gunung Batur. (Tim)