Ketika Anak-Anak Pengungsi Melupakan Sejenak Bencana Gunung Agung

oleh
Kak Seto bermain dan bernyanyi dengan anak-anak di tenda pengungsi di GOR Swecapura, Kabupaten Klungkung, Bali. (Ist)
banner 300250

Klungkung, suarabali.com – Erupsi Gunung Agung menyebabkan ribuan warga terpaksa mengungsi ke tempat-tempat yang aman. Di antara pengungsi itu, banyak anak usia sekolah yang dinilai paling rentan mengalami trauma. Kondisi itu pula yang mendorong  Kementerian Sosial menghadirkan Dr. Seto Mulyadi ke tempat penampungan pengungsi  di GOR Swecapura, Kabupaten Klungkung, Bali, belum lama ini.

Kedatangan tokoh pendidik anak-anak yang dikenal sebagai Kak Seto itu, tentunya, mendapat sambutan yang antusias dari anak-anak pengungsi. Di dalam tenda, Kak Seto mengajak anak-anak bermain dan bernyanyi. Mereka terhibur dan sejenak melupakan penderitaan di tempat pengungsian.

“Inilah yang dibutuhkan anak-anak. Mereka harus terus beraktivitas, sehingga tidak terjebak pada rasa bosan dan traumatis akibat bencana,” ujarnya.

Selain menyanyi dan bermain, tak lupa Kak Seto berpesan agar anak-anak tetap rajin belajar meskipun sedang terjadi bencana alam.

Kementerian Sosial sengaja mendatangkan Kak Seto dan Kak Henny untuk menghibur anak-anak pengungsi. Lantaran anak-anak rentan mengalami trauma, mereka membutuhkan perhatian khusus.

“Ini bagian dari layanan dukungan psikososial yang diberikan Kementerian Sosial. Khususnya kepada mereka yang masuk kategori kelompok rentan,” kata Margowiyono, Direktur Perlindungan Korban Bencana Alam Kementerian Sosial.

Kemensos membentuk Tim LDP untuk memberi layanan sosial dasar kepada korban bencana agar mampu keluar dari trauma dan dapat hidup wajar. Di lapangan, tambah Margo, tugas Tim LDP tidak hanya memberi trauma healing kepada anak-anak, tetapi juga kepada para lansia, kaum difabel, dan ibu hamil.

“LDP ini akan terus dilakukan oleh tim lokal yang ada di sini sepanjang masih ada pengungsi”, ungkapnya.

Di lokasi pengungsian Kabupaten Bangli, misalnya, terlihat para relawan dari berbagai organisasi memberikan layanan dukungan psiko-sosial bersama Kementerian Sosial. Ada yang menggambar bersama anak-anak, memberikan pelatihan menulis, mengajarkan bahasa Inggris, merias diri, dan berbagai aktivitas lainnya.

Relawan asal Ambon bernama Noldi, misalnya, memberikan layanan cukur rambut gratis bagi anak-anak pengungsi. “Saya senang bisa memberikan layanan cukur rambut untuk anak-anak pengungsi agar mereka tetap tampil rapi,” ujarnya. (Sir)