Kelor, Daun Ajaib Primadona Baru Ekspor Jawa Timur

oleh
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di sela-sela acara pelepasan ekspor komoditas pertanian Jawa Timur senilai lebih dari Rp 28 miliar di Terminal Petikemas Surabaya pada 21 Maret 2019. (Ist)
banner 300250

Surabaya, suarabali.com – Bagi sebagian besar masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa, daun kelor tentunya tidak asing lagi. Dulu, kelor berkaitan erat dengan hal-hal yang bersifat mistis. Namun, saat ini kelor dikenal dengan manfaatnya yang beragam bagi kesehatan.


Manfaat kelor di antaranya sebagai antioksidan dan mengandung vitamin A yang tinggi, sehingga baik bagi kesehatan mata, mencegah penyakit jantung, antikanker, dan mengatasi diabetes. Wajar, para ilmuwan menyebut kelor sebagai ‘daun ajaib’.

Keajaiban daun ini pun menarik hati Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di sela-sela acara pelepasan ekspor komoditas pertanian Jawa Timur senilai lebih dari Rp 28 miliar di Terminal Petikemas Surabaya pada 21 Maret 2019.

Khofifah mengaku tidak pernah menyangka bahwa daun yang dulunya dianggap tidak bernilai, ternyata sangat diminati di Korea Selatan. Sebanyak 12 ton daun kelor diekspor ke Korea Selatan dan akan digunakan untuk obat herbal serta dicampurkan ke dalam makanan atau kue.

Khofifah berharap dengan sinergitas yang baik, potensi ekspor tersebut dapat dikembangkan dan ditingkatkan, apalagi permintaan ekspor dari Taiwan dan Tiongkok juga cukup tinggi. Tingginya permintaan tersebut dapat menjadikan kelor sebagai primadona baru bagi ekspor Jawa Timur.

Selain kelor, beberapa komoditas pertanian yang diekspor antara lain 60,231 M3 plywood ke Singapura, 19,1 ton kopi ke Belgia, 22,5 ton gagang cengkeh ke Kanada, dan 81 ton margarin ke Ghana. Ekspor juga dilakukan pada komoditas hewan dan produk hewan, yakni 25,5 ton susu ke Malaysia, 140 ton premix ke Spanyol, 19 ton Sterilized Kenaf Core Dry ke Jepang, 34 ton bulu bebek ke Taiwan, 130 ton calcium salt ke Barcelona, dan 300 kilogram sarang burung walet (SBW) ke Hongkong.

“Pelepasan ekspor ini merupakan hasil kerja sama dan sinergi yang baik Kementerian Pertanian RI melalui Barantan dengan Pemprov Jatim dalam percepatan layanan ekspor produk pertanian. Dan, merupakan salah satu upaya mendongkrak ekspor mengingat potensi dan peluang yang besar dari Provinsi Jatim ya di sektor pertanian,” ungkap Sujarwanto, Kapus KKIP Badan Karantina Pertanian.

Selain itu, ekspor ini juga merupakan inisiasi Kementan melalui Barantan dengan program Ayo Galakkan Ekspor Produk Pertanian oleh Generasi Milenial Bangsa (Agro Gemilang). Program yang bertujuan untuk meningkatkan jumlah ekspor komoditas pertanian berbasis wilayah sekaligus menambah jumlah eksportir di sektor pertanian dari kalangan muda.

Dalam kesempatan yang sama, Sujarwanto mewakili Kepala Badan Karantina Pertanian menyerahkan aplikasi I-MACE, Indonesian Maps of Agricultural Commodities Export.

“Data dari aplikasi ini adalah real time lalu lintas ekspor di Jatim. Harapannya, ini dapat digunakan Pemprov sebagai landasan kebijakan pengembangan komoditas unggulan. Ini langkah riil sinergi Kementan dan Jatim,” pungkas Sujarwanto.

Sementara Kepala Karantina Surabaya Mussayafak Fauzi menjelaskan, wilayah kerjanya sepanjang tri semester pertama tahun 2019 telah menerbitkan 9.468 sertifikat kesehatan karantina yang terdiri dari 8.339 PC ke-93 negara dan 1.129 HC ke-39 negara. Masing-masing dengan total nilai ekspor Rp 10,8 triliun yang terdiri dari komoditas tumbuhan menyumbang Rp 8,95 triliun serta hewan dan produk hewan Rp 1,88 triliun. (*)