Karya 4 Seniman Bali Ini Bikin Imajinasi Melayang ke Masa Kecil

oleh
Karya Uncle Joy yang ditampilkan dalam pameran bertema Dolanan yang berlangsung pada 21-31 Juli 2018 di Uma Seminyak, Jalan Kayu Cendana No. 1 Oberoi Seminyak, Kuta Utara. (Ist)
banner 300250

Kuta, suarabali.com – Uma Seminyak menggelar pameran visual terbaru bertema ‘Dolanan’ pada Sabtu (21/7/2018). Pameran yang diadakan di Jalan Kayu Cendana No. 1 Oberoi Seminyak, Kuta Utara ini menampilkan karya empat kreator. Mereka adalah Monez, Uncle Joy, Siji, dan Venty Vergianti.

Sebagai ruang yang mengakomodasi komunitas kreatif untuk memamerkan karya-karya terbarunya, Uma Seminyak kali ini mengundang 4 kreator berbeda karakter dan latar belakang untuk merespon tema dolanan yang juga bertepatan dengan Hari Anak Nasional.

Dolanan atau dalam bahasa Indonesia “permainan” memiliki banyak makna. Dolanan sangat identik dengan anak-anak, baik dari konteks permainan itu sendiri maupun dunia atau kehidupan anak-anak yang penuh dengan permainan. Dunia yang kaya imajinasi, kepolosan, kejujuran, dan kenekatan.

Kehidupan manusia dewasa pun sebenarnya tidak pernah lepas dari dunia permainan. Bermain melepaskan konsep aturan dan norma yang selalu melekat dalam kehidupan dan terkadang sulit untuk ditanggalkan.

Manusia dewasa cenderung terjebak oleh tujuan dan alasan, sibuk mencari cara untuk bisa menikmati hidup dengan konsep mencari “kebahagiaan”.  Sedangkan anak-anak dengan permainannya cenderung hanya mencoba dan mencoba, berbuat dan beringin tahu tanpa harus tahu tujuan. Cukup dengan menikmati apa yang ada di depan mata.

Manusia dewasa melihat hitam putih. Sedangkan anak-anak melihat spektrum warna lain dalam hitam dan putih.

Monez

Monez, seorang ilustrator dengan latar belakang sebagai orang Bali dan hidup di Bali, banyak berpengaruh terhadap gaya ilustrasinya. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana dia memadukan seni tradisional dan modern. Berbagai teknik dia pakai, mulai dari tradisional sampai ke digital. Sebagian besar karyanya terpengaruh oleh cerita-cerita rakyat Bali, budaya dan mitos yang hidup di Bali.

Dalam pameran Dolanan, Monez mengambil sudut pandang berbeda terhadap masa kanak-kanak yang dia tuangkan dalam karya hitam putih dengan media arang di atas kertas. Arang dipilih, karena merupakan bahan dari alam yang mewakili kita sebagai manusia yang merupakan bagian dari alam ini. Arang juga menghasilkan goresan yang ekspresif dan tanpa rencana, bergerak bebas seperti kebebasan anak-anak dalam bermain (dolanan).

Sebagian besar karya yang dipamerkan kali ini mengambil wujud hewan-hewan imajinatif, menggambarkan sifat manusia kecil yang memiliki berbagai karakter.

Siji

Siji adalah gender fluid clothing line karya Myra Juliarti yang menggunakan material dari serat alam, yang hanya memiliki satu ukuran di setiap bajunya. Terinspirasi dari masalah-masalah yang timbul dalam masyarakat dan merangkul keunikan dari setiap individu, arah rancangan siji menuju pada produk yang terbatas, unisex, berpotongan longgar serta menempatkan kerajinan tangan sebagai media bercerita dalam menyampaikan pesan.

Dalam pameran Dolanan, Siji terinspirasi oleh “Conundrum – permainan pertanyaan” dan relasinya dalam menjalani kehidupan. Siji menuangkannya dalam bentuk rangkaian koleksi desain pakaian sebagai bentuk ekspresi tanpa aturan baku yang dapat diinterpretasikan sesuai dengan masing-masing individu yang melihat.

Venty Vergianti

Lain cerita dengan Venty Vergianti yang mempunyai latar belakang sebagai arsitek yang kemudian jatuh hati pada dunia seni keramik sejak tahun 2010. Dalam karyanya, Venty menerjemahkan Dolanan sebagai sebuah kepolosan, sifat dasar manusia yang dimiliki sejak mereka lahir, dan bagaimana sifat ini terlukai sejalan dengan manusia beranjak dewasa.

Melalui karyanya ini pula, Venty berusaha mengangkat isu kehidupan modern, bagaimana lingkungan menciptakan norma benar-salah, bagaimana pikiran manusia dipengaruhi oleh cerita dan bahasa yang diubah dan dimanipulasi.

Cerita hantu menjadi metafor dari berbagai isu yang beredar di berbagai sisi kehidupan, yang menciptakan kegelisahan dan ketakutan layaknya virus yang menyerang tubuh manusia sehat.

Cerita hantu memperlihatkan sepotong cuplikan akan kehidupan manusia yang sering kali terfokus dalam hitam dan putih dari pada melihat berbagai spektrum warna yang ditampilkan dunia di sekelilingnya. Cerita hantu menjadi pertanyaan akan kesahihan berbagai isu di dunia ekonomi, politik, hingga pendidikan dan spiritual.

Apakah persepsi itu terbentuk atau dibentuk, lagi-lagi semua cerita hantu itu bersumber dari apa yang ada di dalam “kepala” manusia (mind your head).

Uncle Joy

Tri adalah orang di belakang Uncle Joy. Masa anak-anak adalah masa “dolanan” yang sangat disukai Uncle Joy. Memori masa kecil, mainan yang disukai, film kartun tahun 80-an, robot jepang, komik Mahabarata, menari Jawa, membatik adalah hal yang selalu melekat dalam memorinya.

Melalui pilihan medium street art, proses berkaryanya pun tidak jauh dari permainan. Mewarnai, menempel, corat-coret adalah bagian yang sangat menyenangkan dari proses berkarya.

Karakter Uncle Joy selalu berevolusi, haus akan dinding kosong, cat semprot, segala jenis cat/pewarna, spidol, dan warna apa pun. Dua karya dan 1 set karya yang terdiri dari 10 panel dengan warna warni ceria dan karakater unik akan dia tampilkan dalam pameran Dolanan kali ini.

Bagaimana cara anak-anak “melihat” dengan kepolosannya ini menjadi benang merah dari karya-karya seniman yang terlibat dalam menerjemahkan cerita dolanan dalam karya-karyanya.

Melalui pameran ini, para seniman bermaksud membawa audiens dalam dunia khayal, memperluas persepsi akan kehidupan yang penuh imajinasi.

Penasaran…? Hadiri pameran Dolanan  yang diadakan di Uma Seminyak pada 21-31 Juli 2018. Beberapa workshop juga akan diadakan pada masa pameran bersama Venty, Uncle Joy, dan Monez. (Sir)