Kader PDIP Bali Cermati Sikap Politik Tokoh Puri Satria

oleh
Ilustrasi. (Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Para kader PDIP Bali bereaksi atas pernyataan Cokorda Ratmadi yang tidak mendukung pasangan Cagb dan Cawagub Bali yang diusung PDIP. Sebagian kader PDIP sepakat dengan sikap tokoh dan pendiri PDIP Bali versi Megawati yang juga penglinsir Puri Satria Denpasar itu.

Sebelumnya, Cok Rat (sapaan akrab Cokorda Ratmadi) meminta kader PDIP Bali untuk tidak mendukung Wayan Koster.

Made Arjaya, anak kandung salah satu pendiri PDIP Bali Nyoman Lepug, misalnya, meminta kader PDIP Bali untuk berhati-hati. Politisi asal Sanur itu sepakat dengan Cok Rat yang menyatakan warna PDIP Bali di bawah kepemimpinan Koster bukan merahnya PDIP, tetapi sedikit oranye.

“Kalau merahnya PDIP yang nasionalis ini kemudian menjadi merahnya komunis, itulah yang harus diwaspadai,” ujarnya.

Itu sebabnya, Cok Rat yang menjadi anggota Dewan Pertimbangan PDIP Bali meragukan merahnya PDIP di bawah kepemimpinan Koster. “Warna PDIP merah sekarang menjadi oranye. Ini merahnya komunisi. Ini yang tidak kita harapkan. Ini harus diantisipasi kader PDIP di Bali. Merahnya PDIP jangan sampai menjadi merahnya PDIP yang komunis,” ujarnya di Denpasar, Senin pagi (8/1/2018).

Di sisi lain, kader PDIP di Bali juga harus tahu bahwa I Wayan Koster adalah mantan Golkar. Artinya, memenangkan Koster itu sama dengan memenangkan Golkar di Bali. “Semua juga tahu siapa I Wayan Koster. Koster adalah kader Golkar yang menyeberang ke PDIP,” ujarnya.

Itu sebabnya, penglinsir Puri Satria Denpasar yang menjadi basis PDIP di Bali memilih untuk tidak mendukung Koster.

Arjaya menilai, peralihan dukungan Cok Rat memang pernyataan pribadi dan bisa berpengaruh di keluarga besar Puri Satria. Namun, publik Bali seharusnya cerdas melihat sikap politik tokoh Puri Satria tersebut. Pertama, secara sejarah, PDIP Bali memang tidak bisa terlepas dari Puri Satria.

“Beliau (Cok Rat) itu bersama almarhun ayah saya (Nyoman Lepug) telah pasang badan mendukung Megawati dari PDI versi pemerintah berubah menjadi PDIP versi Megawati yang akhirnya menjadi partai besar saat ini. Mereka rela berseberangan dengan pemerintah saat itu demi Megawati. Ini yang harus dilihat kader Bali. Sementara kader yang lain itu mantan Golkar semuanya. Jadi, memenangkan PDIP Bali saat ini sama dengan memenangkan Golkar,” paparnya.

Dia menilai pilihan politik masing-masing itu biasa. Namun, yang harus diperhatikan, Cok Rat adalah salah satu pendiri PDIP Bali. Orang selevel Cok Rat mengeluarkan pernyataan politik yang kontroversial dan cenderung melawan PDIP, tentu memiliki alasan tersendiri. “Kalau saya melihat, calon yang ada sekarang itu alumni Golkar semua. Jadi, sudahlah. Jangan lagi diributkan,” ujarnya.

Dia berharap agar dukungan politik Cok Rat itu jangan sampai menjadi benih perpecahan di Bali dalam perhelatan Pilkada 2018. Bali sedang dalam kondisi susah dengan ancaman erupsi Gunung Agung yang sampai saat ini masih aktif dan pariwisata sempat terpuruk. “Siapapun yang menang, silakan kita dukung untuk membangun Bali,” ujarnya. (Ade/Sir)