Ini Komitmen Koster Terkait Pemenuhan Energi Mandiri di Bali

oleh
Gubernur Bali Wayan Koster. (Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Pemerintah Provinsi Bali memprioritaskan program mewujudkan energi bersih dan mandiri di Pulau Dewata. Selain untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terhadap energi, program ini juga mengacu pada keseimbangan dan keharmonisan manusia dan alam di Bali.

“Masalah energi merupakan salah satu prioritas kami untuk penyediaan energi bagi masyarakat Bali, hingga kebutuhan industri pariwisata,” kata Gubernur Bali Wayan Koster ketika menjadi keynote speaker di acara Focus Group Discussion (FGD)  Rencana Umum Kelistrikan Daerah (RUKD) untuk Mewujudkan Bali Energi Bersih dan Hijau di Hotel Prime Plaza, Sanur, Senin (14/10/2019).

Menurut Koster, dalam penjabaran visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, selain untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terhadap energi, juga harus berdasarkan pada keseimbangan serta keharmonisan manusia dan alam di Bali.

“Bicara penyediaan energi, buat saya Bali harus bisa memenuhi dan memberikan kepastian untuk masalah suplai. Visi Nangun Sat kerthi Loka Bali tersebut juga mencanangkan mandiri energi untuk Bali. Artinya, sumber-sumber energi dikembangkan dalam konsep energi yang ramah lingkungan, energi baru dan terbarukan, alias green energy. Hal ini harga mati buat saya dan harus diwujudkan,” ujar Ketua DPD PDI Perjuangan Bali ini.

Koster ingin mengembangkan energi sehat untuk mengurangi risiko polusinya. Semua pembangkit, menurut dia, harus energi ramah lingkungan dan berkelanjutan seperti pembangkitan energi air, laut, danau, matahari, dan gas.

Menurut dia, saat ini sedang disiapkan skema yang memperhitungkan kebutuhan energi untuk jangka panjang.

“Ini bukan hanya bicara 5-10 tahun, tapi untuk jangka panjang.  Kalau bisa Bali membangun pembangkit listrik yang bisa memenuhi seluruh kebutuhan energi Bali. Dirancang khusus untuk kebutuhan Bali, sehingga bisa mandiri. Semua pembangkit yang ada, minyak, batubara akan dikonversi dengan pembangkit yang lebih ramah lingkungan seperti gas. Pelan-pelan kita alihkan semuanya. Ini harus diwujudkan untuk kebersihan alam Bali, juga meningkatkan citra pariwisata Bali di mata internasional,” ujar gubernur kelahiran Desa Sembiran, Buleleng ini.

Koster menambahkan, saat ini energi di Bali sebagian disuplai dari luar Bali, yakni dari Paiton (PLTU Paiton, Probolinggo, Jawa Timur). Jika ada gangguan di Paiton, dapat berpengaruh pada suplai listrik di Bali.

“Bisa kena pemadaman bergilir kita. Ini tidak boleh sering-sering terjadi, karena bisa berpengaruh buruk pada citra pariwisata Bali,” tambahnya.

Alumnus ITB Bandung ini juga menyebut Bali telah merancang kebijakan untuk penggunaan kendaraan listrik, sehingga makin memperkuat konsep energi bersih di Bali.

“Pemprov Bali dan PLN sudah sepakat untuk pengembangan energi bersih di Bali. Bali bahkan dijadikan percontohan untuk kebijakan energi bersih. Juga percontohan untuk pengembangan kendaraan listrik.  Bersyukur pula Kementerian ESDM sangat berkomitmen untuk mendukung kebijakan-kebijakan energi di Bali, sehingga diharapkan akan makin mudah mewujudkan hal tersebut,” katanya. (*)