Hidup Pengungsi Gunung Agung Lebih Baik dari Pengungsi Lain

oleh
Anak-anak pengungsi di Karangasem, Bali. (Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengatakan kondisi pengungsi yang terdampak erupsi Gunung Agung lebih baik dibanding pengungsi Rohingya yang sangat memprihatinkan.

“Jangan samakan pengungsi Gunung Agung itu dengan Rohingya. Pengungsi Gunung Agung lebih baik. Sekalipun mengungsi, mereka masih bisa main HP (handphone). Mereka dapat makan mewah, mereka punya sepeda motor, bahkan mobil. Bahkan HP-nya mewah. Saya perhatikan itu. Jadi, tidak susah-susah amat lah,” kata Pastika saat bertemu puluhan komponen Masyarakat Pariwisata Bali di Pelabuhan Benoa, Rabu (20/12/2017).

Pastika juga mengatakan pengungsi di Bali kadang-kadang komplain jika terlalu sering mengonsumi mi instan. “Pengungsi Bali kalau makan mi terus-terusan juga komplain. Kadang-kadang mereka mintanya daging sapi. Saya sering dengar mereka katakan, kok mi terus, kapan kita diberi daging sapi,” ujarnya.

Di GOR Swecapura Klungkung, misalnya, kehidupan pengungsi terbilang lebih dari cukup. Kebutuhan seperti gas untuk memasak, air bersih, toilet, makanan, semuanya cukup. Bahkan, di Klungkung pernah disediakan loundry sendiri. Tidak ada pengungsi di tempat lain yang hidupnya lebih tercukupi dari pengungsi di Bali.

“Bahkan, HP (handphone) pengungsi di Bali lebih mewah dari HP para wartawan. Mereka punya sepeda motor, bahkan ada yang punya dua sepeda motor. Suami milik sendiri, istri milik sendiri. Puluhan keluarga lainnya malah punya mobil. Jadi, sekalipun mengungsi, tetapi mereka bawa mobil,” ujarnya.

Dari sisi logistik, sampai saat ini masih sangat mencukupi. “Terus terang saja. Hanya Bali yang menolak bantuan dari mana-mana. Banyak negara asing yang mau memberikan bantuan untuk Bali. Semuanya kita tolak. Kecuali China, yang tanpa memberitahu kita terlebih dahulu, tiba-tiba datang memberikan bantuan. Terpaksa kita terima, karena mereka datang langsung menyerahkan bantuan. Selebihnya kita tolak,” ungkapnya.

Jangankan bantuan asing, menurut Pastika, pengumpulan dana dari masyarakat di jalanan juga ditolak. Jangan sampai hal itu menjadi ajang penyalahgunaan keuangan dan korupsi. Sampai hari ini, logistik masih sangat terpenuhi. Koordinasi dengan Posko Komando dan posko pengungsi lainnya menjadi kendala tersendiri, sehingga berdampak pada sistem distribusi dan kekurangan logistik di posko pengungsi lainnya.

Dari sisi kesiap-siagaan dalam penanggulangan bencana, menurut Pastika, Bali itu sangat siap. “Coba kita perhatikan. Banjir di Pacitan sehari saja, sudah menimbulkan banyak korban meninggal. Sementara kita di Bali, sudah hampir 3 bulan ini, tidak ada satu pun korban jiwa. Kalau akhirnya Gunung Agung meletus dan ada korban, itu artinya dia ceroboh. Karena pemerintah sudah melarang, tidak boleh ada warga di zona merah,” ujarnya.

Kalaupun Gunung Agung akhirnya meletus, Pastika mengaskan, pemerintah bersama petugas BPBD, BNPB, Basarnas, TNI, Polri, sudah siap. (Ade/Sir)