Gubernur Bali Minta 10 Negara Cabut Travel Advisory

oleh
Gubernur Bali Mangku Pastika saat bertemu dengan 34 Konjen negara sahabat di Denpasar. (Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Gubernur Bali Made Mangku Pastika meminta pemerintah sepuluh negara mencabut travel advisory yang dikeluarkan sebelumnya, karena situasi Bali saat ini sudah sangat kondusif.

“Saya sudah menyampaikan langsung kepada 34 Konjen negara-negara sahabat saat bertemu di Denpasar, beberapa waktu lalu. Saya minta mereka segera mempertimbangkan atau mencabut travel warning atau travel advisory yang dikeluarkan bagi warga negaranya untuk datang ke Bali. Karena Bali itu sangat aman untuk dikunjungi,” ujarnya di Denpasar, Rabu (20/12/2017).

Selama ini, ada sepuluh negara yang mengeluarkan travel advisory, karena Gunung Agung. Beberapa di antaranya adalah Australia, Amerika, Inggris, Singapura, China, India, Jepang, Perancis, Malaysia, New Zealand, dan beberapa negara lainnya. Bahkan, China sampai saat ini masih melarang dan mengevaluasi penerbangan ke Bali, baik maskapai asal China maupun maskapai Indonesia yang selama ini melayani rute penerbangan Bali ke China.

Menurut Pastika, banyak negara mengeluarkan peringatan karena terjadi kesalahan pemberitaan media asing dan perbedaan pemahaman penggunaan kata oleh media asing. Dia mencontohkan, kata “letusan” bila ditulis dalam berita asing akan menjadi “eruption”. Untuk orang asing, ini sangat mengerikan.

Padahal, kata Pastika, yang terjadi hanya asap kecil kecil, embusan awan bercampur abu. Kata lain yang cukup menakutkan adalah kegempaan. Kata gempa akan diterjemahkan dengan earthquake. Kata ini bermakna sangat seram. Orang asing membayangkan seperti gempa di Chili, gempa di Jepang, dan sebagainya.  Padahal, kegempaan dalam hubungan dengan Gunung Agung adalah hanya getaran-getaran kecil akibat pergerakan magma.

“Hal-hal ini membuat orang ketakutan datang ke Bali. Banyak negara memperingati warganya saat datang ke Bali. Bukan tidak mungkin perbedaan pemahaman ini akan berdampak negatif bagi Bali. Ini semua akibat pemberitaan media asing yang tidak komprehensif tentang Gunung Agung,” ujarnya.

Sementara di pihak lain, juga terjadi kesalahan pemahaman soal bencana. Status awas Gunung Agung hanya berlaku di radius 8 kilometer dan perluasan sektoral 10 kilometer. Akibat penjelasan media yang tidak paham, orang memahaminya jika seluruh Bali dalam kondisi awas.

“Status awas itu hanya 22 desa di Karangasem. Sementara di Bali ada lebih 700 desa. Kalau di 22 desa di lereng Gunung Agung awas, maka di luar itu statusnya normal-normal saja,” ujarnya.

Dari sisi destinasi wisata, menurut Pastika, juga belum ada penjelasan yang baik. Destinasi yang terganggu itu hanya 2 persen. Sisanya tidak ada masalah. “Hal-hal kecil begini harus dijelaskan dengan tuntas. Bila tidak, dampaknya besar sekali,” ujarnya.

Gunung Agung itu secara ilmiah tidak akan meletus besar. Bila tahun 1963 letusannya besar, karena lebih dari 100 tahun Gunung Agung tidak meletus. Saat ini, usianya baru 54 tahun. Dari jalur ring of fire mulai dari Sumatera hingga Nusa Tenggara dan Sulawesi, sudah banyak gunung yang meletus. Magma dipastikan terus berkurang.

Dari kondisi Gunung Agung sendiri, Pastika menjelaskan, tahun 1963 letusannya besar karena kawahnya kecil, jalur magma belum ada. Saat ini, kawahnya besar, lima kali lipat dibanding tahun 1963. “Kalau pun meletus, kecil saja,” katanya.

Dari sisi teknologi, kata dia, semua pergerakan magma bisa terdeteksi. Pusat magma ada di Kecamatan Tejakula Barat di dalam laut. “Jadi, pergerakan magma itu terpantau dengan baik”. (Ade/Sir)