Belum Ada Pasien Suspect, Bali Masih Aman dari Virus Corona

oleh
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr. Ketut Suarjaya. (Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr. Ketut Suarjaya menegaskan Pulau Bali masih aman dari virus novel corona. Hingga kini belum ada kasus yang menyatakan pasien suspect virus corona di Bali.


Ketut Suarjaya menegaskan hal itu kepada wartawan di Ruang Rapat Cempaka Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Senin (3/2/2020). Penegasan itu terkait dengan kekhawatiran dan kesimpang-siuran berita tentang penyebaran virus corona.

Ketut Suarjana kembali menegaskan, hingga saat ini virus corona belum terdeteksi masuk Bali. Itu sebabnya, dia menyayangkan pemberitaan yang menyebut adanya pasien suspect corona.

“Inilah yang harus kita pahami bersama, jangan sembarangan nyebut suspect. Sebab, secara medis untuk menyebut suspect, ada sejumlah kriteria yang harus dipenuhi. Selain menunjukkan gejala fisik berupa demam, batuk, pilek nyeri tenggorokan dan pneumonia, seorang bisa disebut suspect corona bila punya riwayat ke China atau wilayah/negara yang terjangkit dalam waktu 14 hari sebelum timbul gejala serta pasien tersebut harus melalui scan thorax/paru-paru untuk mengetahui apakah ada infeksi atau tidak,” papar Ketut Suarjana.

Selain itu, menurut dia, yang bersangkutan sempat kontak dengan kasus terkonfirmasi corona atau mengunjungi fasilitas kesehatan di negara dimana infeksi corona telah dilaporkan.

Meski hingga kini virus baru dengan kode 2019-nCoV itu belum terdeteksi masuk Bali, tetapi pihaknya tetap menyiapkan langkah pengendalian dan tata laksana penanganan sesuai dengan SOP yang telah ditetapkan Kementerian Kesehatan. Saat ini, kata dia, ada sejumlah rumah sakit rujukan untuk penanganan corona, yaitu RSUP Sanglah, RS Sanjiwani Gianyar, dan Rumah Sakit Tabanan.

Selain itu, Ketut Suarjaya juga memaparkan situasi global virus corona hingga 1 Februarii 2020 dengan jumlah kasus terkonfirmasi mencapai 11.953, China 11.821 kasus, meninggal 259 orang. Di luar China mencapai 132 kasus di 23 negara, yaitu Jepang, Korea Selatan, Vietnam, Singapura, Australia, Malaysia, Kamboja, Philipina, Thailand, Nepal, Sri Lanka, India, Amerika, Canada, Prancis, Finlandia, Jerman, Italia, Uni Emirat Arab, Spanyol, Swedia, dan United Kingdom.

Sedangkan di Bali, menurut dia, sampai 1 Februari 2020 telah terdapat 18 kasus pasien yang memiliki faktor risiko yang sudah dapat penanganan. Di antaranya 14 WNA (China 10 orang, luar China 4 orang) dan WNI 4 orang (tour guide dan kru pesawat).

Dari 18 orang pasien yang memilki faktor risiko tersebut, dia menjelaskan, ada 7 orang dalam pengawasan dan 7 orang dalam pemantauan. Sedangkan jumlah sampel yang diambil dari 7 orang, 6 orang hasilnya negatif dan 1 orang masih proses pemeriksan sampel, serta 1 kasus masih dalam observasi di RSUP Sanglah.

Ketut Suarjana menyebut, hingga saat ini belum ada vaksin untuk virus corona, karena memang baru ditemukan tahun 2019. “Pengobatan yang dilakukan bersifat suportif sesuai dengan gejala yang ada,” tambahnya.

Oleh sebab itu, upaya pencegahan menjadi hal yang sangat penting untuk dioptimalkan saat ini. “Pemerintah Provinsi Bali sampai saat ini terus melakukan kerja sama yang baik dengan KKP Kelas I Denpasar untuk melakukan dan pengawasan ketat di pintu masuk Bandara Ngurah Rai serta Pelabuhan Benoa dan walaupun mulai Rabu (5/2/2020) tepat pukul 00.00 WIB, penerbangan dari Indonesia ke China dan sebaliknya sudah ditutup, maka kami tetap menyiagakan alat thermal scanner mengingat virus corona sudah menyebar ke 23 negara,” paparnya.

Untuk itu, Ketut Suarjana mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak menyebarkan berita-berita hoaks yang membuat masyarakat panik. Selain itu, masyarakat juga diminta mengedepankan pola hidup sehat serta menghindari kontak dengan orang yang menderita infeksi pernafasan akut. (*)