Begini Gaya Hidup Sehat ala Olga Lydia

oleh
Olga Lydia. (Ist)
banner 300250

Jakarta, suarabali.com – Sakit adalah hal yang tidak diinginkan oleh semua orang. Selain membuat diri tidak produktif, juga merugikan orang-orang di sekitar. Untuk mencegah hal itu terjadi, perbanyaklah olahraga dan kontrol pola makan.


Cara itu pula yang dilakukan oleh aktris Indonesia, Olga Lydia. Ia mengaku takut sakit dengan waktu yang lama, lantas ia rajin berolahraga dan mengatur pola makan.

“Kadang-kadang orang malas (berolahraga dan mengatur pola makan). Tapi kalau ingat sakitnya akan lama, saya jadi takut sendiri,” kata Olga pada puncak Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-54 di Jakarta, Minggu (18/11/2018).

Olga mengaku jika dirinya sakit akan berdampak pada produktivitas kerjanya. Ia menggambarkan pada salah satu profesinya sebagai pemandu acara, apabila ia sakit tentu acara yang akan digelar menjadi gagal dan bisa mengecewakan orang lain, bahkan kehilangan kepercayaan dari orang lain.

Ia menyadari bahwa dewasa ini banyak penyakit yang terjadi akibat gaya hidup tidak sehat. Dampaknya timbul penyakit degeneratif seperti diabetes dan kolesterol yang membuat penderitanya tidak bisa lepas dari obat.

Maka untuk mencegahnya, aktris yang juga berprofesi sebagai model ini lebih memilih perbanyak olahraga dan mengatur pola makan dengan baik. Manfaatnya telah dibuktikan oleh sang ibu, Olga menceritakan bahwa saat ini ibunya berusia 77 tahun.

Di usianya yang senja itu, kata Olga, sang ibu masih bugar. Bahkan saat ibunya berusia 70 tahun masih mampu bermain paraseling.

“Ibu saya umur 70 iseng main paraseling. Ibu saya olahraga tiap pagi Senin sampai Jumat senam sama teman-temannya. Saya lihat efeknya dia sering jalan-jalan dan sangat menikmati,” kata Olga.

Selain olahraga, pola makan pun harus dijaga. Dalam mengonsumsi karbohidrat, porsinya Olga terapkan tidak lebih dari 50 persen setiap makan.

Kemudian batasi asupan gula. Banyak makanan di Indonesia yang rasanya lebih manis daripada rasa manis yang alamai seperti batang tebu.

“Kita harus bisa mengatur porsi asupan gula. Misalnya kalau makan kue yang manis maka minumnya jangan manis,” kata Olga. (*)