Wagub Sudikerta Hadiri Upacara Nangluk Merana di Pura Pesamuan Agung

oleh
Wagub Sudikerta Hadiri Upacara Nangluk Merana di Pura Pesamuan Agung, Desa Pekraman Gegelang, Manggis, Kabupaten Karangasem, Senin (5/2/2018). (Ist)
banner 300250

Karangasem, suarabali.com – Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta menghadiri upacara Karya Nangluk Merana di Pura Pesamuan Agung, Desa Pekraman Gegelang, Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali, Senin (5/2/2018).

Selain mendapat sambutan hangat dari warga, Wagub Sudikerta juga melaksanakan persembahyangan bersama warga. Upacara ini juga dihadiri Wakil Bupati Karangasem I Wayan Artha Dipa.

Dalam sambra wacananya, Sudikerta menyampaikan, pada hakekatnya upacara atau yadnya merupakan wujud rasa syukur dan terima kasih kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Pelaksanaan upacara juga untuk memohon perlindungan dan kesejahteraan sekala dan niskala. Untuk itu, pihaknya mengingatkan agar dalam ber-yadnya dilaksanakan sesuai dengan kemampuan krama.

“Pelaksanaan yadnya merupakan rasa bakti, suatu persembahan suci yang dilaksanakan dengan tulus ikhlas. Jadi, saya ingatkan kembali dalam beryadnya, lakukanlah sesuai kemampuan dan didasari niat tulus ikhlas, astungkara apa yang menjadi tujuan pelaksanaan upacara bisa terwujud sesuai harapan,” katanya.

Lebih jauh, Sudikerta mengatakan, kesederhanaan pelaksanaan upacara tanpa harus mengurangi maknanya, segala sarana harus lengkap berdasarkan sastra agama dan petunjuk dari para sulinggih.

“Sebelum pelaksanaan upacara, sepatutnya kita bertanya dulu kepada para sulinggih terkait sarana yang harus disiapkan. Jadi, upacara bisa sederhana namun tetap harus lengkap. Ada pala bungkah, pala gantung, dan sarana lainnya. Yang mana harus kita sederhanakan, di antaranya, kurban yang kita persembahkan, semisal kita memotong babi lebih dari satu ekor, sekarang cukup satu ekor, itu akan bisa mengurangi biaya upacara yang kita keluarkan,” imbuh Sudikerta.

Kelian Adat Desa Pekramaan Gegelang, Ketut Darmayasa, menyampaikan apresiasinya atas kehadiran Wagub Sudikerta sebagai salah satu bentuk penyempurna pelaksanaan upacara, yakni adanya upasaksi dari guru wisesa (pemerintah).

Dia juga menjelaskan, pelaksanaan upacara sepenuhnya berasal dari gotong-royong masyarakat, baik tenaga, material, maupun non-material. (Sir)