Untuk Pertama Kali, Ilmuwan Ciptakan Kornea Manusia dari 3D Printing

oleh
Ilustrasi. (Ist)
banner 300250

Newcastle, suarabali.com – Dengan bantuan Bio-printer 3D, Profesor Che Connon (Tissue Engineering) bersama tim ilmuwannya di Newcastle University akhirnya bisa merancang teknik di mana mereka mampu memadukan sel-sel sehat batang kornea dengan “kolagen” dan “alginat”, jenis gula yang digunakan dalam regenerasi jaringan.

Seperti dilansir teknologi.id, dengan bantuan gula ini, mereka bersama-sama menciptakan “bio-ink”, campuran yang dapat dicetak yang membantu dalam memungkinkan mereka untuk menduplikasi bentuk kornea manusia hanya dalam beberapa menit.

Kornea adalah lensa terluar mata manusia, melindungi mata dari hal-hal berbahaya seperti sinar, terutama membantu dalam fokus. Cedera kornea dapat menyebabkan rasa sakit yang parah, bahkan gangguan penglihatan sebagian atau seluruhnya. Beberapa penyakit menular juga dapat memengaruhi kornea dan menyebabkan kebutaan.

Pada tahun 2016, setelah penelitian ilmiah dan survei yang diadakan secara global diketahui bahwa hanya satu dari setiap 70 transplantasi kornea yang tersedia. Sejak saat itu, penelitian dibuat semakin banyak untuk menggandakan regenerasi kornea dengan bantuan bioteknologi. Sekarang spekulasi ini menjadi kenyataan dengan bantuan bio-ink dan pencetakan 3D.

“Banyak tim di seluruh dunia telah mengejar bio-ink yang ideal untuk membuat proses ini layak. Gel unik kami (kombinasi alginat dan kolagen) membuat sel-sel induk tetap hidup. Sementara menghasilkan bahan yang cukup kaku untuk menahan bentuknya, tetapi cukup lunak untuk diperas keluar dari nosel printer 3D,” papar Che Connon dalam sebuah wawancara baru-baru ini.

Connon juga menyebutkan, ini hanya awal dari penelitian revolusioner. Masih butuh beberapa tahun lagi untuk pasien dapat diobati menggunakan kornea cetak 3D ini. Ia juga menyebutkan penelitian ini pada dasarnya hanya bukti dan konsep bahwa teknologi ini dapat dibuat. Namun, kata dia, pencapaian ini  baru sebagian kecil dari yang diharapkan.

“Ini membuat kita percaya bahwa masa depan percetakan 3D dan obat-obatan semakin menjadi fokus. Dan, kita akan dapat melihat lebih banyak kemajuan di tahun-tahun mendatang, yang tidak hanya bermanfaat bagi umat manusia, tetapi juga akan meningkatkan harapan hidup,” ungkapnya. (*)