Tokoh Pencak Silat Bali Kertha Wisesa Made Sujana ‘Balok’ Meninggal Dunia

oleh
Kertha Wisesa Made Sujana ‘Balok’ semasa hidupnya. (Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Kota Denpasar kehilangan salah satu putra terbaiknya. Tokoh pencak silat Bali kelahiran Denpasar, I Made Sujana ‘Balok’ berpulang akibat penyakit jantung yang telah lama dideritanya.

Upacara ngeringkes diadakan pada Senin (5/3/2018) di kediaman Alm. I Made Sujana ‘Balok’ di lingkungan Banjar Pamedilan, Kelurahan Pamecutan, Denpasar Barat. Serangkaian pengabenan Alm. I Made Sujana ‘Balok’ dihadiri Sekda Kota Denpasar AAN Rai Iswara bersama sejumlah pimpinan OPD di lingkungan Pemkot Denpasar.

Sekda Kota Denpasar AAN Rai Iswara mewakili jajaran Pemerintah Kota Denpasar mengucapkan rasa bela sungkawa sedalam-dalamnya atas berpulangnya Alm. I Made Sujana ‘Balok’ dan semoga arwah beliau diterima di sisi-Nya serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.

“Apresiasi patut diberikan kepada Alm. I Made Sujana ‘Balok’ semasa hidupnya melalui karya dan dedikasinya. Beliau yang dikenal sebagai sesepuh PPS. Kertha Wisesa telah mencurahkan segala buah pemikirannya untuk pembangunan Kota Denpasar. Hal ini patut dijadikan contoh bagi generasi muda kedepannya,” ungkap Rai Iswara.

Sementara salah satu putra almarhum, Agus Agung Satrio Wibowo, ditemui seusai upacara ngeringkes, mengatakan selama hidupnya, almarhum selalu menekankan kepada anak-anaknya untuk menghormati orangtua, walaupun pernah disakiti harus tetap santun dan hormat kepada semua orang.

“Kami sebagai anak tentu bangga memiliki ayah seorang I Made Sujana ‘Balok’ yang dikenal sebagai pesilat sesepuh PPS,” katanya.

Kertha Wisesa adalah mantan politisi yang sempat menjadi anggota Dewan Kota Denpasar periode tahun 1992-1998 hingga 1998-2000.

Serangkaian upacara ngaben Alm. I Made Sujana ‘Balok’ pada Kamis (5/3/2018) dilaksanakan upacara ngeringkes dan pada 8 Maret 2018 dilaksanakan upacara pengabenan.

“Upacara pengabenan ini diisi upacara ngajum pada pagi harinya dan dilanjutkan pamerasan. Kemudian pada jam 12 siang dilanjutkan dengan upacara pengabenan,” ujar Agus Agung Satrio Wibowo.

Menurut Agus Agung Satrio Wibowo, orangtuanya telah lama menderita penyakit jantung dan telah dilakukan tindakan pengobatan oleh keluarga.

“Kondisi terakhir beliau saat meninggalkan kami tidak ada keluhan. Beliau seolah memberikan kesan tidak sakit dan tidak membebani keluarga dan pergi dengan tenang,” ungkapnya.

“Kami dari pihak keluarga memohon doa dari masyarakat kepada almarhum agar beliau diberikan jalan yang terbaik. Apabila semasa hidupnya beliau memiliki kesalahan baik disengaja atau tidak, mohon untuk dimaafkan,” imbuh Agus Agung Satrio Wibowo. (Sir)