Ternyata Karangasem Tempat Asal Mula Manusia di Bumi, Ini Kisahnya

oleh
Presiden Perdamaian Dunia Djuyoto Suntani menandatangani prasasti batu sebagai tanda peresmian "Hari Keluarga Bumi" di objek wisata Vila Putung, Desa Duda Timur, Selat, Kabupaten Karangasem, Bali. (Foto: Stw)
banner 300250

Karangasem, suarabali.com – Presiden The World Peace Committee Djuyoto Suntani menandatangani prasasti batu sebagai tanda peresmian “Hari Keluarga Bumi” yang ditetapkan pada tanggal 27 Maret 2018. Penandatangan prasasti ini berlangsung di objek wisata Vila Putung, Desa Duda Timur, Selat, Kabupaten Karangasem, Bali.

Seremoni penetapan “Hari Keluarga Bumi” tersebut diawali dengan pengalungan bunga dari Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumatri kepada Presiden Perdamaian Dunia (The World Peace Committee) Djuyoto Suntani beserta rombongan.

Melalui kegiatan tersebut, I Gusti Ayu Mas Sumatri berharap Kabupaten Karangasem nantinya semakin berperan aktif dalam menciptakan perdamaian dunia. Sebelumnya, Pulau Bali juga ditetapkan sebagai ‘Pulau Perdamaian’ pada 27 Desember 2011.

“Perdamaian dunia sudah selayaknya diciptakan bersama dan merupakan harapan bersama. Mewujudkan perdamaian dunia  dapat dimulai dengan saling menghargai dan saling menghormati antar-umat beragama,” kata Sumatri.

Menurut dia, hubungan harmonis antar-umat beragama di Kabupaten Karangasem menjadi bukti terwujudnya perdamaian. Kendati demikian, dia tetap mengimbau masyarakat agar tetap mewaspadai semua ancaman yang dapat memecah belah persatuan.

“Komunikasi antar-umat beragama harus terus dibangun, sehingga paham-paham radikal dapat dicegah,” ungkapnya.

Sementara Presiden Perdamaian Dunia Djuyoto Suntani mengatakan pihaknya memilih Kabupaten Karangasem sebagai lokasi penetapan “Hari Keluarga Bumi” telah melalui berbagai pertimbangan. Di antaranya, aspek spiritual.

Dia mencontohkan, Ibukota Kabupaten Karangasem bernama Almapura. Nama ‘Amlapura’ berasal dari kata ‘Alam’ dan ‘Pura’. “Dalam bahasa Sanskerta kuno, alam adalah jagad raya, sedangkan pura adalah kota. Jadi, Alampura artinya ibukota bagi alam semesta atau ibukota jagad raya. Oleh karena itu, di Ibukota Jagad Raya ini ditetapkan Hari Keluarga Bumi. Hari keluarga bagi alam semesta,” paparnya.

Dari aspek budaya, Djuyoto Suntani menjelaskan, Karangasem juga memiliki sejarah yang panjang. Seperti kisah ketika Jawa dan Bali masih menyambung dalam satu daratan yang dikenal dengan nama Pulau Panjang.

Di Pulau Panjang inilah sebagai tempat asal-mula manusia di muka bumi jutaan tahun yang silam. Hal ini terbukti dengan penemuan fosil-fosil manusia purba di Trinil, Jawa Tengah. Sedangkan di Bali, juga ditemukan di Karangasem dimana orang sering menyebutnya “Ajeg Bali”, ”Bali Mula” atau asal manusia-manusia Bali.

“Sebenarnya, Karangasem bukan sekadar asal-mula manusia Bali, tapi tempat asal usul umat manusia bumi jutaan tahun silam, yang kemudian menyebar ke seluruh planet Bumi,” ujarnya.

Dari aspek geografis, kata Djuyoto Suntani, kabupaten yang terletak di ujung timur Pulau Bali ini memilik Gunung Agung sebagai gunung vulkanik besar atau inti bumi yang menjaga keselarasan semesta.

“Gunung merupakan makhluk purba di Bumi yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam semesta. Manusia purba dulu tinggal di gua-gua kaki gunung yang mencari hidup pada dinamika gunung. Gunung Agung merupakan gunung vulkanik yang hidup hingga sekarang,” urainya.

Dari aspek religiusitas, masih kata Djuyoto Suntani, di Kabuapaten Karangasem terdapat Pura Agung Besakih, yakni pura paling besar yang setia mengawal konsep kehidupan sempurna dalam ajaran Tri Hita Karana, yaitu menjaga hubungan keseimbangan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam semesta, serta manusia dengan Yang Maha Kuasa, Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Selain beberapa aspek tersebut, menurut dia, masih ada aspek lainnya seperti aspek demografi, aspek sosial, aspek mutasi dan siklus kehidupan, aspek filosofis serta aspek etika dan tata krama.

Di lain sisi, Djuyoto Suntani mengungkapkan, hari Selasa tanggal 27 dipilih sebagai penetapan Hari Keluarga Bumi, karena hari Selasa disebut juga Sela-selaning Manungso. Hari yang kosong bagi umat manusia, hari ground zero atau blank spot bagi manusia dan seluruh makhluk hidup di alam semesta.

“Nama Selasa maknanya, sela-selasanya kahidupan, waktu istirahat. Pada zaman dulu, tiap hari Selasa, semua orang tidak boleh melakukan aktivitas. Secara spiritual tiap hari Selasa semua makhluk hidup juga istirahat,” ungkapnya.

Sementara tanggal 27, menurut dia, merupakan hitungan angka tertinggi, yaitu hitungan 2 + 7 = 9. Angka sembilan merupakan angka tertinggi. Hari Keluarga Bumi ditetapkan pada hitungan tanggal di angka tertinggi.

Lantas, kenapa memilih tanggal 27, bukan 18 yang sama-sama berjumlah 9? “Sebab, angka 2 adalah angka keseimbangan, sedangkan angka 7 adalah angka kesuksesan,” jawabnya.

Hari Keluarga Bumi ditetapkan pada tahun 2018. Jika dihitung sama 2 + 0 + 1 + 8 = 21. Total angka 21 merupakan dari ”dua arah keseimbangan” menuju “satu tujuan hidup”. Tujuan hidup kehiduan yang damai sejahtera menuju sesembahan Syang Hyang Wiudhi Wasa, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Lebih jauh, Djuyoto Suntani menjelaskan, beberapa keuntungan Karangasem dipilih sebagai lokasi  penetapan Hari Keluarga Bumi, Kabupaten Karangasem mendapat keuntungan superbesar dari seluruh sektor kehidupan. Masyarakat Kabupaten Karangasem mendapat nilai tambah (selling point) yang maha tinggi dalam hal image, citra baik, brain, nama, sosial, ekonomi, wisata, budaya, spirit, gengsi, martabat, kehormatan, harga diri, dan lain-lain sepanjang zaman.

“Semua berdampak positif, sehingga nama Karangasem dikenal di seluruh dunia dan melegenda sepanjang zaman yang mendatangkan sumber devisa tanpa batas bagi seluruh masyarakat Karangasem. Karangasem pada masa depan setelah ditetapkan Hari Raya Bumi kelak benar-benar menjadi Ibukota Alam Semesta,” pungkasnya. (Stw/Sir)