Terkait Buku Merah, Polisi Bantah Adanya Aliran Dana ke Kapolri

oleh
Dirkrimsus Polda Metro Jaya Kombes Pol. Adi Deriyan Jayamarta. (Ist)
banner 300250

Jakarta, suarabali.com – Belakangan ini nama Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian disebut-sebut menerima aliran dana dari pengusaha impor daging Basuki Hariman. Kasus ini ramai dibicarakan setelah Indonesialeaks melakukan investigasi mengenai perkara dugaan suap yang menjerat mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Patrialis Akbar, dan pengusaha impor daging Basuki Hariman.

Dalam kasus itu ada dugaan aliran dana ke petinggi Polri, yang tercatat dalam buku bersampul warna merah (Buku Merah). Diduga aliran dana itu diberikan kepada Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian.

Menanggapi hal itu, Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda Metro Jaya Kombes Pol. Adi Deriyan Jayamarta mengatakan bahwa perkara itu sudah lama dilakukan penyelidikan.

“Buku Merah ini berkaitan dengan kasusnya Basuki Hariman. Urusan permasalahan adanya dugaan tindak pidana gratifikasi dalam proses lelang daging. Nah, kemudian ada namanya muncul Buku Merah,” kata Adi Deriyan.

Dia menjelaskan, tahun 2017 pihaknya sudah melakukan proses penyelidikan dan penyidikan langsung kepada sumbernya, Basuki Hariman. Dia pun menanyakan hal itu kepada yang bersangkutan terkait dugaan aliran dana impor daging ke pejabat Polri, dan berdasarkan keterangan dari Basuki, tidak ada.

“Buku Merah itu katanya berisi catatan. Itu buku dicatat oleh Kumala Dewi. Jangan artikan orang yang menyerahkan, tapi mencatat. Yang menyuruh mencatat namanya Basuki Hariman. Pertanyaannya, apa dalam catatan itu benar, kuncinya ada di siapa? Basuki Hariman sudah kita periksa, sudah kita mintai klarifikasinya,” ungkapnya.

Berdasarkan pemeriksaan, kata Adi Deriyan, Basuki Hariman menyatakan bahwa hal-hal yang dicatat dalam Buku Merah itu adalah semata-mata untuk  kepentingan pribadinya. Artinya, catatan itu tidak ada urusannya dengan penyerahan kepada siapa sesuai dalam buku catatan. “Itu keterangan Basuki Hariman,” katanya.

Berdasarkan keterangan Basuki Hariman, kata Adi Deriyan, catatan itu bertujuan untuk kepentingan dirinya berkaitan dengan tujuan mengurangi laba perusahaan. “Kalau laba kurang maka bonus karyawan juga kurang. Itu tujuannya dia mencatat,” ujarnya.

Menurut Adi Deriyan, pihaknya sudah mendalami masalah tersebut. Jadi, catatan dalam Buku Merah itu tidak ada kaitannya dengan penggunaannya. “Itu hanya inisiasi Basuki Hariman untuk keperluan dirinya, untuk mengurangi laba perusahaan dan mengurangi bonus kepada karyawan. Itu keterangan yang bersangkutan dalam berita acara,” paparnya.

“Kita tanya ke dia apa benar pernah memberikan apa yang tercatat dalam Buku Merah. Kata Pak Basuki tidak pernah. Jadi selesai. Kalau sumbernya saja bilang tidak pernah, kenapa kita bilang ada,” imbuhnya.

Adi Deriyan pun membantah mengenai Buku Merah yang berisi laporan keuangan yang dirusak, bahkan dikasih tanda tip-ex tersebut.

“Siapa yang bilang diduga dirobek? Gini sekarang Buku Merah dijadikan barbuk di pengadilan. Enggak ada apa-apa kan? Pengadilan berjalan lancar. Tapi sekarang kita tanya terus ke Pak Basuki sebagai sumber informasi tentang Buku Merah,” katanya. (Tjg)