Tarif SMU Menggila, Pedagang Durian Menjerit

oleh
banner 300250

Bogor, suarabali.com – Sejumlah pedagang durian di Bogor, Jawa Barat, mulai menjerit. Penyebabnya, tingginya kenaikan tarif Surat Muatan Udara (SMU) yang mencapai 75 persen, membuat pasokan durian monthong dari Sulawesi ke Bogor jadi terhambat.

Erwin Hadi, pemilik Lapak Wawin Durian Bogor, merupakan satu di antara sekian banyak pedagang durian di Bogor yang merasakan dampak kenaikan SMU yang dinilai tidak rasional itu.

Erwin mengakui beberapa hari belakangan pasokan durian monthong dari Sulawesi ke lapaknya tersendat akibat mahalnya tarif SMU.

“Langkah sebagian besar perusahaan maskapai penerbangan yang menaikkan tarif Surat Muatan Udara (SMU) sampai 75 persen, bahkan lebih, dalam waktu yang sangat singkat, sungguh perlakuan semena-mena,” kata Erwin.

Menurut pedagang durian yang murah senyum ini, pemerintah  seharusnya bertindak membela rakyat yang menggantungkan bisnisnya pada jasa kargo udara.

Mantan jurnalis ini mengungkapkan, pada pertengah tahun 2018, tarif SMU Makassar-Jakarta hanya bekisar  Rp 7.000 per kilogram. Tarif mulai meroket pada Desember 2018 hingga mecapai angka tarif SMU Rp 10.000 per kilogram.

“Kenaikan gila-gilaan ini belum berakhir, bahkan semakin tidak berprikemanusiaan,” ujarnya bernada kesal.

Pada 7Januari 2019, kata Erwin, tarif SMU Makassar ke Jakarta melambung hingga mencapai  Rp 18.900 hingga Rp 19.400 per kilogram sesuai kemauan perusahan maskapai.

Tarif SMU itu masih diikuti lagi dengan tarif lainnya seperti PPn, sewa gudang Rp 500 per kilogram, RA  Rp 550 per kilogram, konsesi Rp 300  per kilogram, dan lain-lainnya.

Erwin memprediksi, jumlah pengiriman melalui kargo udara kemungkinan akan mengalami penurunan.

“Seharusnya kargo udara terus meningkat seiring perkembangan industri pengiriman yang didorong oleh pertumbuhan e-commerce yang signifikan dari tahun ke tahun,” pungkasnya. (Sir)