Tahun 2020, RSUD Bali Mandara Operasikan Pelayanan Kanker Terpadu

oleh
Gubernur Bali Wayan Koster melakukan peletakan batu pertama pembangunan Unit Pelayanan Kanker Terpadu di UPTD RSUD Bali Mandara, Sanur, Denpasar, Selasa (14/5/2019). (Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Gubernur Bali Wayan Koster melakukan peletakan batu pertama pembangunan Unit Pelayanan Kanker Terpadu di UPTD RSUD Bali Mandara, Sanur, Denpasar, Selasa (14/5/2019). Layanan ini akan menjadi nilai lebih untuk RSUD Bali Mandara.

Unit Pelayanan Kanker Terpadu tersebut nantinya juga dapat dinikmati masyarakat Bali yang sudah tercover JKN-KBS sekaligus menjadi pelaksanaan salah satu program prioritas visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali di bidang kesehatan.

Peletakan batu pertama tersebut juga dihadiri anggota DPRD Bali I Nyoman Parta, Kepala Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan Bali Umar Ibnu Alkhatab, Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra, dan jajaran kepala OPD di lingkungan Pemprov Bali.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr. Ketut Suarjaya mengatakan, Pemerintah Provinsi Bali mulai membangun layanan kanker terpadu seluas 4.170 meter persegi yang terdiri dari bunker untuk radioterapi, lantai satu tempat untuk poliklinik, lantai dua untuk layanan laboratorium, dan lantai tiga untuk kedokteran nuklir.

“Nanti di sini adalah layanan terpadu mulai dari radiodiagnostik, radioterapi, kemoterapi, dan kedokteran nuklir,” kata Suarjaya.

Dia menambahkan, sesuai dengan kontrak pembangunan unit layanan kanker terpadu ini direncanakan selesai pada 1 Desember 2019. Unit Pelayanan Kanker yang dibangun dengan dana APBD Provinsi Bali ini akan dilengkapi dengan alat-alat kedokteran nuklir dan radioterapi seperti linier accelerator, MRI, dan alat-alat untuk layanan kanker lainnya.

“Kami berharap awal tahun 2020 layanan kanker ini sudah dapat melayani masyarakat, khususnya yang mengalami penyakit kanker,” ujarnya.

Menurut Suarjaya, anggaran untuk bangunan fisik sebesar Rp 52,364 miliar. Sementara pengadaan alat medis tahun 2019 dianggarkan sebesar Rp 53 miliar dan berlanjut tahun 2020 sebesar Rp 50 miliar lebih.

“Tetapi dengan peralatan yang sekarang (tahun ini) kita beli, astungkara awal 2020 kita sudah bisa melayani kasus-kasus kanker,” kata Suarjaya. (*)