Solusi Sampah Kota: Ulat Ini Ternyata Dapat Makan Plastik

oleh
Ulat pemakan plastik mungkin menjadi solusi atasi tumpukan sampah plastik dikota besar
banner 300250

Inggris, suarabali.com – Bisa jadi ini adalah salah satu solusi menyelesaikan tumpukan jutaan ton sampah plastik disemua tempat pembuangan akhir sampah diseluruh negara.
Saintis baru-baru ini terkejut melihat ada jenis ulat yang dapat memakan plastik, fakta ini lalu mengundang pertanyaan apakah ulat ini mampu menyelesaikan pencemaran plastik didunia?

Jenis plastik yang paling umum digunakan saat ini adalah polyethylene. Semua orang menggunakan film plastik, tas plastik, atau memakai cangkir plastik dan botol, biasanya terbuat dari jenis polyethylene.

Sebenarnya polyethylene sangat berguna saat ini diseluruh negara, namun jeleknya dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk menghancurkan polyethylene, dengan perkiraan mulai dari 100 sampai 400 tahun baru bisa habis ditempat pembuangan sampah.

Saat ini dipikirkan bagaimana mendaur ulang polyethylene dengan cepat adalah sebuah tantangan, dan yang sejauh ini para ilmuwan belum mampu mencari jalan keluarnya. Namun, sebuah penemuan tidak sengaja ini mungkin akan mengubahnya.

Federica Bertocchini adalah peternak lebah amatir dan anggota Dewan Riset Nasional Spanyol (CSIC). Salah satu musuh peternak lebah adalah ulat, yang merupakan larva dari ngengat lilin yang lebih besar. Mereka tinggal di sarang lebah dan hidup dari menyerap lilin lebah. Peternak lebah perlu masuk dan mengeluarkannya dari dalam sarang apabila ulat ini masuk disana.

Bertocchini lantas memutuskan untuk sementara menyimpan ulat lilin yang dikeluarkannya dari sarang didalam kantung plastik.

Besoknya dia kaget, ulat yang ada didalam kantong plastik itu dapat memakan plastik dan membuat lubang untuk keluar. Bertocchini melaporkan temuannya dan mulai bekerja dengan Departemen Biokimia Universitas Cambridge untuk melakukan serangkaian eksperimen dengan ulat yang memakan plastik.

Apa yang mereka temukan adalah cacing lilin yang dapat menghancurkan plastik. Dimana bakteri dapat melakukan biodegradasi plastik dengan kadar sekitar 0.13mg per hari, 100 ulat lilin akan menguyah sebanyak 184 mg plastik per hari selayaknya makan permen saja.

Beewax (lilin lebah) menurut Bertocchini, “semacam plastik alami,” jadi ulatnya sudah diatur untuk merusak struktur serupa pada plastik buatan manusia. Dan mereka tidak hanya memakannya, mereka memecahkan rantai polimer dalam plastik.

Alih-alih melemparkan ratusan jutaan ulat mengatasi masalah polusi plastik, langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi bagaimana cacing lilin dapat melakukan ini. Itu bisa berupa air liur khusus atau bentuk usus cacing, tapi apa pun itu, mengidentifikasi itu berarti ilmuwan dapat mengekstrak dan memperbanyaknya dalam skala besar sehingga bisa memulai dengan cepat pembusukan limbah plastik. (Hsg)