Soal Galungan, Ini Pesan Pastika Kepada Generasi Muda Hindu Bali

oleh
Gubernur Bali Made Mangku Pastika. (Foto Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Gubernur Bali Made Mangku Pastika meminta kepada generasi muda Hindu Bali agar selalu memiliki rasa ingin tahu tentang makna perayaan Galungan yang dilakukan secara rutin setiap tahun.

Menurut Pastika, keingintahuan pemuda akan makna Hari Raya Galungan itu akan berdampak pada kualitas perayaan sekaligus implementasinya dalam kehidupan nyata sehari-hari.

“Sekarang kalau kita apa itu Galungan? Pasti jawabnya adalah merayakan kemenangan darma melawan a-darma atau kemenangan kekuatan kebaikan melawan kekuatan jahat. Pernahkan generasi muda Hindu Bali mempertanyakan itu. Jangan sampai tidak bisa menjelaskan. Agama itu harus bisa dijelaskan secara ilmu pengetahuan. Jangan sampai hanya bisa mengucapkan selamat Hari Raya Galungan mohon maaf lahir batin. Apa tidak ada hal lain yang menjelaskan hal itu. Pernah kan kita mempertanyakan hal tersebut,” ujarnya saat bertemu sejumlah wartawan di Denpasar, Senin sore (30/10).

Lebih jauh Pastika menjelaskan, generasi muda Hindu Bali harus memperdalam makna Galungan. Pastika membandingkan, dalam agama Islam, ada yang disebut kotbah Jumat di masjid. Bagi umat Kristen juga ada kotbah Minggu di gereja.

Sementara dalam agama Hindu tidak ada kotbah, tidak ada pencerahan dari pemimpin agama Hindu yang diwajibkan kepada masing-masing umat untuk lebih memahami apa yang diimaninya. Saat Galungan, tidak ada kotbah, tidak ada darma wacana. Dan kalau pun ada hanya untuk beberapa kelompok atau kalangan tertentu saja.

“Pernah kita mempertanyakan kenapa sebelum Galungan ada penampahan, ada ngelawar, menyembelih babi, lalu Galungan, lalu ada Umanis Galungan. Apa maknanya. Sementara ada banyak masyarakat yang tidak bisa makan daging di hari tersebut. Saya pernah menyaksikan sendiri. Setelah makan ngelawar, saya berkeliling ke beberapa perkampungan. Masih ada keluarga yang tidak ada makanan menjelang Galungan. Apakah itu yang kita rayakan. Kenapa kita tidak berbagi daging kepada mereka yang berkekurangan. Hal-hal begini yang harus menjadi pemikiran kita bersama,” ujarnya.

Ia menegaskan, jika perayaan Galungan merupakan perayaan kemenangan darma atas adarma atau kemenangan kekuatan kebaikan atas kekuatan jahat, lalu melihat orang tidak makan bukannya menjadi tanggungjawab bersama. Menurut Pastika, dalam Galungan itu umat Hindu Bali harus mampu melewati dan memenangi terhadap kekuatan AIDS.

“Aids yang saya maksud itu bukan virus, tetapi berarti amarah, iri, dengki, serakah. Aids ini ada pada diri setiap orang tanpa kecuali. Itulah yang harus dikalahkan. Kalau hanya berbicara soal kemenangan darma melawan a-darma sulit dipahami. Makanya saya minta generasi muda Hindu Bali harus terus mempertanyakan makna hari raya Galungan,” ujarnya.

Menurut Pastika, memperdalam agama sendiri juga merupakan suatu sikap hidup yang bisa mengawali nilai toleransi. Tidak fanatik dengan agama sendiri dan mampu menghormati agama dan keyakinan lain.

“Kurangnya pengetahuan agama secara keilmuan, bisa melahirkan sikap fanatisme sempit dan akhirnya menganggap agama lain itu salah semua,” ujarnya. Itulah sebabnya, generasi muda Hindu Bali perlu mempertanyakan makna Galungan itu sendiri. (Ade)