Simakrama Terakhir, Pastika Terima 16 Aspirasi Masyarakat

oleh
Gubernur Bali Made Mangku Pastika (tengah) saat simakrama terakhir di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Denpasar, Sabtu (28/7/2018). (Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Salah satu program Gubernur Bali Made Mangku Pastika sepanjang pemerintahannya selama dua periode ialah menyerap aspirasi masyarakat dengan cara menggelar open house atau simakrama. Melalui simakrama ini, Gubernur Pastika menerima saran dan kritik secara langsung dari masyarakat Bali.

Sabtu (28/7/2018) merupakan simakrama yang terakhir Gubernur Made Mangku Pastika dengan masyarakat. Simakrama digelar di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Denpasar. Simakrama yang ke-98 kalinya ini sekaligus menjadi masa transisi, sehingga mengangkat tema: Menyambut Gubernur dan Wakil Gubernur Bali.

Tampak hadir Wakil Gubernur Bali terpilih Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati yang mendampingi Gubernur Pastika dalam simakrama kali ini. Pada kesempatan ini, Pastika secara khusus menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Bali apabila dalam penyampaiannya ada yang tidak pas. “Terima kasih atas semua partisipasinya, khususnya kepada semua peserta yang konsisten hadir saya ucapkan terima kasih,” kata Pastika seperti dilansir laman birohumas.baliprov.go.id.

Menurut Pastika, banyak hal masih harus dilakukan di Bali, apalagi dengan perubahan situasi yang terus terjadi. Sehingga, masyarakat Bali harus bisa mengantisipasi hal ini secara proaktif agar tidak termakan oleh gelombang perubahan.

Meski menjadi simakrama yang terakhir, animo peserta tidak surut. Sebanyak 16 peserta menyampaikan aspirasinya dalam pertemuan yang berlangsung selama tiga jam tersebut. Sebelum penanya pertama, Kepala Bappeda Provinsi Bali selaku pemandu mempersilakan salah satu peserta simakrama yang merupakan taruna Akademi Kepolisian RI untuk berbicara.

Didampingi empat orang koleganya di Akpol, Agung Sukamara menyampaikan terima kasihnya, karena program Bali Mandara dapat mengejar cita-cita menjadi polisi. Pemuda asal Buleleng ini menjadi salah satu siswa SMA Bali Mandara yang berhasil lolos menjadi taruna Akpol tahun 2017.

Yang lebih membanggakan, Sukamara juga menjadi anggota Dewan Musyawarah Taruna (Demustar) di Akpol. “Semoga program yang dijalankan yang kiranya memberikan dampak positif bagi masyarakat Bali bisa diteruskan,” kata Sukamara.

Selanjutnya, berbagai aspirasi bermunculan dalam simakrama ini, baik itu oleh anak muda, orangtua, penyandang disabilitas, akademisi hingga pemuka agama. Persoalan pertanian, budaya, adat, pendidikan, kemacetan, kebersihan hingga masalah sosial menjadi topik aspirasi yang disampaikan masyarakat.

Warga Bongkasa, Wayan Setiawan, menyampaikan terima kasihnya, karena melalui ajang simakrama ini dirinya bisa menemukan jatidirinya. “Mulai dari menyampaikan aspirasi soal tajen, kemudian mencoba terjun ke politik hingga akhirnya menetapkan diri menjadi pengusaha di bidang pertanian,” curhat Setiawan dengan nada terharu.

Sementara Prof. Ketut Sukardika menilai simakrama ini sebagai ajang yang bermanfaat sebagai evaluasi sehingga masyarakat Bali bisa terus meningkatkan diri. Seperti Sukamara, mayoritas peserta simakrama berharap program-program yang sudah berjalan baik pada pemerintahan Gubernur Pastika agar dilanjutkan oleh gubernur yang baru.

Gubernur Pastika menerima semua masukan dan meminta SKPD terkait untuk menindaklanjuti aspirasi yang disampaikan. Di antaranya soal warga Nusa Penida yang belum mendapatkan bedah rumah, warga Buleleng yang depan rumahnya menjadi tempat pembuangan sampah, pengusaha UKM wine lokal yang membutuhkan bantuan produksi, serta aspirasi yang masuk lainnya. “Ini manfaat simakrama, untuk mendapatkan respons,” kata Pastika.

Seusai simakrama, Pastika mengatakan tidak mudah bagi seorang gubernur untuk menggelar simakrama dengan masyarakat. “Tidak gampang, perlu keberanian, perlu kerendahan hati, perlu kesabaran, perlu transparansi, perlu akuntabilitas. Makanya, di seluruh Indonesia cuma ada di Bali,” katanya.

Meski masih memiliki waktu satu bulan lagi, Gubernur Pastika memastikan tidak menggelar lagi simakrama, karena kepadatan kegiatan di bulan Agustus mendatang seperti ulang tahun Pemerintah Provinsi Bali, HUT RI, dan rencana kunjungan Presiden RI Joko Widodo. (*)