Setelah Manggis, Salak Gula Pasir Bali Siap Diekspor ke Kamboja

oleh
Kepala UPTD Sertifikasi Mutu dan Keamanan Pangan Bali, Tusta (kiri) dan Kepala Karantina Denpasar Terunanegara (tengah). (Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Badan Karantina Pertanian berupaya maksimal untuk mendorong akselerasi ekspor komoditas pertanian. Setelah sukses mengekspor buah manggis, kini giliran buah salak gula pasir asli Bali yang bersiap memenuhi pasar-pasar luar negeri.

“Bulan Maret depan, Kamboja sudah pasti mengimpor salak langsung dari Bali,” kata Martin, eksportir salak.

Menurut Martin, salak  gula pasir dari Bali memiliki citarasa yang luar biasa dibanding salak-salak dari daerah lain. “Saya optimis buah ini akan menyusul kesuksesan ekspor buah manggis,” ungkapnya.

Sementara Kepala Karantina Denpasar drh. Terunanegara, MM mengatakan pihaknya akan mendampingi dan bekerja sama dengan petani di Bali untuk memperlancar ekspor-ekspor komoditas pertanian.

“Jangan takut, karantina tidak pernah mempersulit ekspor. Kami justru membantu memperlancar sertifikasi komoditas pertanian yang akan diekspor,” kata Terunanegara saat membuka Rakor Akselerasi Ekspor Buah Salak di ruang pertemuan Karantina Denpasar, Jumat (22/2/2019).

“Persyaratan bukan kami yang membuat, melainkan dari negara tujuan ekspor. Karantina siap membantu pemenuhan persyaratan tersebut,” imbuhnya.

Registrasi rumah kemas dan kebun menjadi persyaratan ekspor buah salak ke China. Sedangkan negara-negara yang belum mempersyaratkan, buah salak sudah dapat diekspor ke negara-negara tersebut. Sementara registrasi hanya bertujuan untuk mengetahui ketelusuran dari komoditas pertanian yang diekspor jika nantinya ada permasalahan.

“Rumah kemas dan kebun manggis saja bisa diregistrasi untuk ekspor, kenapa tidak untuk buah salak,” kata Kepala Seksi Karantina Tumbuhan Irsan Nurhantoro.

Hal itu menjadi kabar baik bagi petani buah salak di Bali. Sebab, adanya ekspor secara otomatis akan mendongkrak produksi salak yang berkualitas dan mempunyai daya saing.

“Jangan hanya mengandalkan produksi salak habis untuk dikonsumsi di Bali saja. Sebab, dengan mengandalkan pasar dalam negeri saja, saya yakin produksi tahun per tahun hanya sekadarnya saja,” ujar Tusta, Kepala UPTD Sertifikasi Mutu dan Keamanan Pangan Bali.

Untuk menunjang peningkatan ekspor komoditas pertanian, Badan Karantina Pertanian melalui program AgroGemilang akan berupaya menggalakkan ekspor pertanian dengan mencetak petani milenial yang produktif dan kreatif. Sehingga, komoditas pertanian Indonesia mampu bersaing dan sejajar dengan produk dari luar negeri.

Contohnya, ekspor manggis dari Bali pada tahun 2018 menjadi ekspor manggis tertinggi yang  mengalahkan daerah-daerah lain di Indonesia. sekitar 4.000 ton buah manggis berhasil disertifikasi Karantina Denpasar dengan tujuan China. (*)