Semangat ‘Puputan’ dalam Upaya Memberantas Korupsi

oleh
Wakil Ketua KPK Saut Situmorang saat menghadiri Festival Antikorupsi 2017 di Denpasar, Bali. (Foto: Mkf)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com  – Festival Antikorupsi 2017 yang mengusung tema ‘Puputan Lawan Korupsi’ berlangsung meriah. Masyarakat tampak antusias mengikuti kegiatan yang diadakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Lapangan Puputan, Badung, Denpasar, Bali, Sabtu (9/12/2017).

Dalam Festival Antikorupsi itu, KPK bekerja sama dengan 16 komunitas untuk merayakan Hari Antikorupsi Internasional yang digelar setiap tahun pada tanggal 9 Desember. Pada puncak acara, panitia menggelar beragam kegiatan secara bersamaan, di antaranya, pameran foto, pemutaran film antikorupsi, pertunjukan teater, musikalisasi puisi, dan konser musik.

Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengatakan kegiatan ini merupakan salah satu impiannya. Sebab,  kegiatan tersebut dapat menampilkan kearifan lokal yang mengandung edukasi agar masyarakat antikorupsi.

“Seperti semangat Puputan, sebuah perjuangan yang dimulai tahun 1800 sampai Belanda pergi. Maka, setiap nilai itu ada dalam Puputan, seperti kerja keras, disiplin, dan integritas. Nilai-nilai itu untuk mengingatkan bahwa harus ada kerja keras untuk melawan korupsi,” ucapnya.

Menurut catatan id.wikipedia.org, puputan adalah istilah dalam bahasa Bali yang mengacu pada ritual bunuh diri massal yang dilakukan saat perang daripada harus menyerah kepada musuh.

Puputan yang terkenal di Bali adalah Puputan Jagaraga yang dilakukan oleh Kerajaan Buleleng melawan pasukan kolonial Belanda setelah Raja Buleleng memberlakukan sistem tawan karang (menahan seluruh kapal asing yang berlabuh di Dermaga Buleleng) terhadap kapal-kapal dagang Belanda. Sedangkan Puputan Margarana dipimpin oleh seorang serdadu Dewan Perjoeangan Republik Indonesia Sunda Kecil (DPRI SK) kelahiran Bali bernama I Gusti Ngurah Rai untuk melawan aksi militer kolonial Belanda.

Saut berharap kegiatan seperti Festival Antikorupsi dapat digelar lebih besar lagi pada tahun mendatang. Khusus Festival Antikorupsi yang digelar tahun ini di Bali, menurut dia, bisa menjadi contoh untuk daerah lainnya. “Bali bisa menjadi contoh. Daerah lainnya juga punya nilai-nilai kearifan lokal yang bisa mengingatkan kita pada perjuangan memberastas korupsi,” imbuhnya.

“Seperti kita lihat,  masalah-masalah seperti kasus ‘tiang Listrik’ itu selalu ada. Jadi, kita harus bersatu, mulai dari lingkungan rumah dan sekolah, untuk tetap melawan dan memberantas korupsi,” jelasnya.

Ketua Panitia Festival Antikorupsi 2017, Komang Arya Ganaris,  mengatakan KPK yang memfasilitasi festival yang digelar di Bali. “Perbedaan tahun ini, lebih banyak konten lokal yang ditampilkan. Seperti Puputan Lawan Korupsi menjadi tempat untuk menyuarakan antikorupsi,” ujarnya.

Menurut Arya, saat ini Indonesia darurat korupsi. “Setiap hari ada pemberitaan tentang korupsi. Koruptor tidak ada jera-jeranya. Saya pikir, ini harapan baru untuk melawan dan memberantas korupsi,” pungkasnya. (Mkf/Sir)