Selain NOC, Triasmitra Juga Garap Bisnis Pengamanan Kabel Laut dan Darat

oleh
Jajaran direksi PT Ketrosden Triasmitra (Triasmitra Group) menjelaskan kepada wartawan seputar permasalahan kabel optik laut dan darat di kantornya, Meta Epsi Building, Jakarta, Rabu (30/5/2018). (Foto: Tjg)
banner 300250

Jakarta, suarabali.com – Selain mengoperasikan Network Operation Center (NOC) terbaru di Jakarta, PT Ketrosden Triasmitra (Triasmitra Group) juga merambah ke bisnis baru berupa monitoring serta patroli pengamanan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) dan kabel optik darat.

“Layanan itu dibutuhkan pasar Indonesia yang rawan dengan kejadian kabel putus tanpa jelas siapa yang bertanggung jawab,” kata CEO Ketrosden Triasmitra, Titus Dondi Patria, saat peresmian NOC dan kantor baru di Meta Epsi Building, Jalan DI Panjaitan, Jakarta, Rabu (30/5/2018).

Berdasarkan data kerusakan SKKL, menurut Titus, 70 persen putusnya kabel optik laut akibat terkena jangkar kapal. Sisanya, 30 persen akibat gangguan alam dan vandalisme. Sedangkan sebagian besar kerusakan fiber optik darat disebabkan pembangunan dan vandalisme.

“Kabel putus itu kerugian besar bagi operator telekomunikasi. Bagi mereka, lebih baik mencegah ketimbang memperbaiki kabel putus. Sebab, akan menurunkan performansi jaringannya. Belum lagi masyarakat yang layanan internetnya bisa terganggu,” papar Titus.

Untuk itu, kata Titus, Triasmitra menawarkan layanan terbaru berupa tindakan pencegahan (preventive) dan tindakan perbaikan (corrective).

Dalam pencegahan (monitoring) SKKL dan kabel optik darat, Triasmitra menawarkan dua layanan: traffic monitoring dan patroli pengamanan. “Untuk pengamanan kabel optik darat, kami mendirikan service point di setiap cakupan area 60 sampai 150 kilometer,” ungkap Titus.

Untuk patroli SKKL, Triasmitra membangun basecamp yang dilengkapi kapal patroli dan tim patroli. “Kami memonitor pergerakan kapal di sekitar lokasi kabel optik laut setiap hari. Kami juga melakukan patroli di lokasi yang rawan guna memberikan peringatan langsung kepada kapal yang turun jangkar di sembarang tempat,” katanya.

Agar pengawasan SKKL lebih efektif, Triasmitra juga menjalin kerja sama dengan Badan Keamanan Laut (Bakamla) Republik Indonesia. Lewat kerja sama ini, Triasmitra dan Bakamla melakukan patroli bersama sekaligus sosialisasi di wilayah yang sering terjadi kerusakan kabel laut optik karena terkena jangkar kapal.

“Kerja sama dengan Bakamla ini juga dalam rangka tindakan hukum bila terjadi pengrusakan kabel laut,” tegasnya.

Titus menjelaskan, payung hukum penindakan tersebut, antara lain UU No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi. Dalam UU itu disebutkan, pengrusakan jaringan telekomunikasi merupakan tindakan pidana yang diancam dengan hukuman pidana penjara dan denda.

Selain layanan monitoring serta patroli pengamanan SKKL dan kabel optik darat, Triasmitra juga mulai mengoperasikan NOC terbarunya di Jakarta. NOC ini akan mengelola operasi dan pemeliharaan SKKL dan kabel optik darat milik perseroan serta pelanggannya.

NOC yang berlokasi di Jakarta Timur itu menjadi bagian dari operasional  8.000 km SKKL dan kabel optik darat dari Triasmitra Group. Terdiri dari SKKL B2JS sepanjang 1.070 km yang menghubungkan Jakarta-Bangka-Batam-Singapura dan Batam-Bintan, SDCS (Surabaya-Denpasar Cable System) sepanjang 520 km yang menghubungkan Surabaya dan Denpasar serta UJB (Ultimate Java Backbone) yang menghubungkan Jakarta sampai Surabaya dengan membentuk 5 ring sepanjang 2.661 km.

Ada 15 pelanggan pengguna jaringan infrastruktur tersebut. Mereka pemain top di industri telekomunikasi Indonesia, di antaranya, Telkom, Indosat, XL Axiata, Linknet, Biznet, Moratelindo, Telkom Malaysia, Iforte, dan Fiberstar.

“NOC ini tak hanya menjadi pusat operasi dan monitoring dari kabel yang kami bangun, tetapi kabel yang dipercaya dikelola Triasmitra,” kata Titus Dondi Patria.

Triasmitra punya dua anak usaha, yakni PT Jejaring Mitra Persada dan PT Triasmitra Multiniaga Internasional (TMI). “PT Jejaring untuk pembangunan atau gelar kabel optik. Sedangkan TMI itu managed service untuk kabel optik,” katanya.

Menurut Titus, pihaknya tidak hanya mengelola kabel laut yang digelar PT Jejaring Mitra Persada, tetapi juga milik operator lain. (Tjg/Sir)