Radikalisme Kampus Lebih Berbahaya, Ini Alasannya

oleh
Anggota Komisi III DPR RI Wihadi Wiyanto. (Ist)
banner 300250

Jakarta, suarabali.com – Anggota Komisi III DPR RI Wihadi Wiyanto menilai radikalisme kampus lebih berbahaya daripada radikalisme yang muncul dari kampung-kampung karena tekanan ekonomi. Radikalisme dari kaum intelektual kampus bisa menularkan pada banyak orang. Tugas pemerintah harus membendung ini, karena sudah bersentuhan pula dengan ideologi negara.

“Ternyata radikalisme itu tidak saja menyangkut masyarakat bawah, tapi juga kampus. Ini sangat mengkhawatirkan. Kampus adalah golongan intelektual. Kalau kaum intelektual terpapar radikalisme, maka negara harus punya perhatian khusus atas radikalisme kampus,” kata Wihadi Wiyanto usai mengikuti rapat kerja dengan Kapolri di Gedung DPR, Selasa (5/6/2018).

Dulu radikalisme muncul karena tekanan ekonomi. Tapi, sekarang radikalisme sudah masuk kampus. Radikalisme dari kaum intelektual sangat berbahaya, karena pelakunya juga menggunakan logika untuk menciptakan teror.

“Logika bertemu radikalisme sangat berbahaya. Satu hal yang harus diwaspadai, radikalisme tidak mengenal sekat lagi dalam berkomunikasi. Seluruh dunia bisa diakses. Semuanya seperti menjadi rumah kaca,” tutur anggota Fraksi Gerindra ini.

Menurut dia, sumber-sumber radikalisme harus ditanggulangi sedini mungkin. Tautan-tautan radikalisme di dunia maya harus pula disetop agar tidak berkembang lebih lanjut. Sementara paham radikal yang sudah berkembang saat ini harus segera diminimalisasi.

“Pemerintah diimbau melakukan pendekatan ideologi kepada kaum intelektual kampus yang sudah terpapar radikalisme,” ungkapnya.

Dibanding radikalisme di kampung-kampung, menurut dia, radikalisme kampus butuh waktu lebih panjang untuk meredamnya. Sedangkan radikalisme yang muncul dari kampung-kampung lebih menonjolkan aksi kriminal untuk melakukan kerusakan saja.

“Kalau bicara radikalisme kaum intelektual, maka itu bicara ideologi negara. Inilah yang bisa memengaruhi seseorang. Ini embrio yang secepatnya harus ditanggulangi. Mahasiswa tidak boleh dikekang juga. Mereka perlu diberi kesempatan untuk berpikir, tapi pahamnya harus dikontrol,” tutup Wihadi. (*/Sir)