Putu Supadma Kecam Aksi Pengusaha China yang Jual Murah Pariwisata Bali

oleh
Anggota Komisi X DPR RI Putu Supadma Rudana. (Ist)
banner 300250

Jakarta, suarabali.com – Anggota Komisi X DPR RI Putu Supadma Rudana mengecam keras kabar pengusaha asal China yang menjual murah pariwisata Bali yang bekerja sama dengan travel ilegal. Mewakili masyarakat Bali, Putu mengaku kecewa karena pengawasan pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pariwisata, sangat lemah terhadap pariwisata Bali yang diduga dijual murah ke wisatawan China itu.

Putu menegaskan, pemerintah pusat jangan menutup mata, karena ini menyangkut hajat hidup masyarakat Bali. Dari pengusaha besar sampai pengusaha kecil di Bali menggantungkan nasibnya melalui pariwisata. Kemenpar jangan membiarkan hal ini berlarut-larut dan berdiam diri saja.

“Segera ambil tindakan konkrit, seperti menutup selamanya tempat usaha yang terbukti  ilegal atau memenjarakan dan mendeportasi jika ada pengusaha asal China yang menjual pariwisata Bali murah, transportasi ilegal, bisnis makanan ilegal, dan mempekerjakan orang asing secara ilegal,” tegas Putu dalam rilisnya, Rabu (24/10/2018).

Bagi legislator Partai Demokrat itu, pemerintah harus tegas kepada pengusaha asal China, karena ancamannya pengusaha lokal kecil dan besar akan gulung tikar. Ini juga berlaku kepada masyarakat lokal pendatang yang bekerja sama dengan pengusaha asal China yang ingin menjual wisata murah di Bali. Sementara Bali itu tujuan nomor satu wisatawan asing dan lokal.

Diketahui, modusnya para turis asal China diajak berbelanja ke toko-toko milik pengusaha asal China yang juga menjual produk-produk asal China, tetapi diklaim sebagai produk khas Bali atau Indonesia.

Putu juga meminta dan berharap Kemenpar harus pro kepada masyarakat lokal, karena menghargai kearifan lokal adalah sumber kekayaan budaya negeri ini. Menurut dia, Kemenpar tidak mempunyai strategi besar kepariwisataan untuk mengelola pariwisata dengan baik dan komprehensif. “Ini sangat merugikan sektor pariwisata Indonesia,” tegasnya.

“Jangan hanya mengejar jumlah wisatawan yang banyak dan devisa sebesar-besarnya, kemudian melupakan sistem dimana wisatawan asing tidak diarahkan ke budaya lokal, membeli barang serta makan makanan dari China dengan dilabeli label Bali. Ini semua  tidak ada manfaatnya bagi masyarakat Bali,” imbuh legislator dapil Bali itu.

Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia (AMI) ini juga meminta Kemenpar untuk menjelaskan terkait dugaan jual murah pariwisata Bali kepada pengusaha China yang bekerja sama dengan travel ilegal. Sebab, kata dia, kalau masalah ini dibiarkan dapat menggerus, bahkan menggusur pengusaha pariwisata lokal di Bali. (*)