Polda Bali Gelar Diskusi Terkait Kekerasan pada Wanita dan Anak

oleh
Suasana diskusi terkait upaya pencegahan tindak kekerasan terhadap wanita dan anak di Gedung Praja Mandala, Kantor Bupati Klungkung, Kamis (6/2/2020). (Ist)
banner 300250

Klungkung, suarabali.com – Direktorat Binmas Polda Bali menggelar diskusi terkait upaya pencegahan tindak kekerasan terhadap wanita dan anak serta tindakan anarkis di lingkungan sekolah. Diskusi ini berlangsung di Gedung Praja Mandala, Kantor Bupati Klungkung, Kamis (6/2/2020).


Diskusi tersebut menghadirkan narasumber, di antaranya, Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Kabupaten Klungkung I Wayan Surya Sabatosa, I Dewa Gede Pradnyana dari Dinas Kesehatan Kabupaten Klungkung, I Made Widyastuti dari Satuan Reskrim Polres Gianyar sebagai moderator, dan Bhayangkara Penyelia Operasional Sub Direktorat Pembinaan Ketertiban Sosial Ditbinmas Polda Bali AKP Benyamin Nikijuluw.

Diskusi diikuti para tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, Komite Orang Tua Siswa, siswa SMA Saraswati, siswa SMA Negeri 1 Dawan, STT Banjar Komuning, pemerhati Perempuan dan anak Kabupaten Klungkung, Saka Bhayangkara Polres Klungkung, dan para guru bimbingan konseling. Total peserta yang hadir sebanyak 70 orang.

Dalam sambutannya, Kepala Sub Direktorat Pembinaan Ketertiban Sosial (Kasubdit Bintibsos) Ditbinmas Polda Bali AKBP Moh. Asharianto mengatakan diskusi tersebut bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat agar cerdas menggunakan media sosial guna mencegah tindakan anarkis di masyarakat.

“Juga untuk menghindari tindakan kekerasan yang diakibatkan oleh dampak negatif penggunaan media sosial di masyarakat, khususnya di kalangan remaja,” kata Asharianto.

Menurut dia, media sosial bermanfaat untuk mendapatkan informasi dan solusi berbagai permasalahan dengan cepat. Juga bermanfaat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, kata dia, di sisi lain juga dapat memengaruhi prilaku para pengguna media sosial jika tidak bijak dalam penggunaannya.

Untuk itu, dia semua pihak bersinergi dalam bertindak, terlebih lagi faham radikal sudah mulai masuk ke ranah sekolah yang tentunya membahayakan dan dapat mengganggu situasi kamtibmas menjelang Pilkada Serentak tahun 2020. (*)