Pengemudi Blue Bird Jadi Duta Wisata melalui WISA

oleh
Menpar Arief Yahya dan co branding blue bird. (ist)
banner 300250

Jakarta, suarabali.com — Kementerian Pariwisata bersama PT Blue Bird mengadakan ToT (Training of Trainer) bagi para pengemudi Blue Bird dalam rangka memberikan pelayanan prima sebagai Wonderful Indonesia Service Ambassador (WISA).

Menpar Arief Yahya menjelaskan, program WISA sangat penting dalam meningkatkan pelayanan pengemudi Blue Bird, khususnya layanan taksi di bandara ataupun tempat wisata. Pengemudi berhubungan langsung dengan turis saat akan meninggalkan bandara. Untuk itu, diperlukan first impression yang mendalam (moment of truth), khususnya tentang Wonderful Indonesia sehingga menjadi kenangan yang membuat mereka akan berkunjung kembali ke Indonesia atau repeat guest.

Moment of truth sangat penting yang dalam marketing sebagai place (4P: Promotion, Product, Price, and Place). Artinya, place yang dimaksud yaitu kesan pertama yang mendalam dan ini harus dilakukan melalui pelatihan kepada para driver Blue Bird sebagai ujung tombak pelayanan kepada wisman,” kata Arief Yahya.

Hal tersebut disampaikan Menpar kepada 100 pengemudi Blue Bird saat menjadi mentor Training of Trainer (ToT) program Wonderful Indonesia Service Ambassador (WISA) di Kantor Pusat Blue Bird, Jakarta, Rabu (16/5/2018).

Menpar Arief Yahya mengatakan, untuk menjadi seorang Duta Wisata Wonderful Indonesia hanya membutuhkan keterampilan (skill). “Sebetulnya, how to be a service ambassador? Hanya ada tiga aspek, yakni service key success factor, customer contact point, dan service level agreements. Ketiga aspek ini menjadi materi dalam pelatihan ToT WISA,” jelas Menpar.

Dalam pelatihan tersebut juga diberikan pembekalan mengenai hospitality dan pengetahuan dasar kepariwisataan seperti konsep Sapta Pesona, serta bagaimana teknik dalam mempromosikan pariwisata (storytelling).

Dalam menjelaskan WISA, Arief Yahya memberikan benchmark taksi Black Cab di Kota London, Inggris. Dia menyebut, belum ke London kalo belum naik Black Cab. Walaupun tarifnya 3 kali lebih mahal dari tarif taksi biasa, tapi taksi berbentuk unik itu masih menjadi idola para wisatawan.

“Sebagai benchmark saja. Jika ingin lulus jadi driver taksi Black Cab di London, perlu waktu kurang lebih 3 tahun untuk test knowledge. Tidak hanya itu, para driver juga harus hapal 15 ribu jalan serta 20 ribu spot destinasi. Para driver Black Cab juga memberikan storytelling kepada para penumpangnya. Contoh bila penumpangnya muslim, mereka akan bercerita dimana tempat kuliner halal, dimana masjid, dan lainnya,” ujarnya.

Namun, Blue Bird tidak perlu seperti itu. Sebab, Kemenpar dan Blue Bird akan membuat aplikasi yang sangat memudahkan bagi para driver. Aplikasi ini nantinya akan dipasang di dashboard dan berfungsi memudahkan para pengemudi Blue Bird dalam memberikan informasi atau menjelaskan kepada penumpangnya tentang atraksi, amenitas, maupun aksesibilitas di masing-masing destinasi.

Contohnya, menerangkan tentang atraksi yang menarik pada hari atau minggu ini, hotel (amenitas) apa yang memberi diskon atau kuliner apa yang menjadi top-10, maupun akses yang paling cepat dan nyaman bagi wisatawan. Semua informasi akan mudah ditampilkan dalam smartphone pengemudi.

Namun, saat ini, aplikasi tersebut dalam proses pengerjaan. “Aplikasi itu pihak Blue Bird yang men-develop, nanti sama-sama kita kembangkan. Saya maunya namanya WISA,” ujar Menpar Arief Yahya.

Sebanyak 100 driver Blue Bird yang mengikuti ToT disiapkan sebagai calon pelatih (trainer). Mereka nantinya bertindak sebagai satgas pelatihan bagi rekan-rekan driver lain dalam kelas-kelas selanjutnya.

Arief Yahya berharap dengan adanya pelatihan ini, para pengemudi Blue Bird dapat menjadi konsultan destinasi wisata. “Layaknya seorang konsultan, para pengemudi ini akan lihai memberikan rekomendasi mengenai hotel, restoran, mall serta destinasi wisata yang menarik dikunjungi wisatawan”, jelas Arief Yahya.

Direktur PT Blue Bird Adrianto Djokosoetono mengapresiasi komitmen Menpar dalam memberikan pelatihan WISA bagi para pengemudi Blue Bird. “Kami berterima kasih kepada Bapak Arief Yahya beserta tim atas pelatihan yang diberikan. Selain sebagai bentuk dukungan kepada industri pariwisata, pelatihan ini juga dapat meningkatkan standar pelayanan pengemudi kami,” ujar Adrianto.

Program pelatihan ToT WISA ini bagian dari Perjanjian Kerjasama (PKS) program Co-Branding Wonderful Indonesia Kemenpar dengan Blue Bird Group. Kemitraan ini dibangun karena Blue Bird sebagai perusahaan transportasi terbesar.

Blue Bird memiliki 23.000 taksi yang tersebar di 18 kota di seluruh Indonesia dan telah dipercaya melayani sejak tahun 1972. Blue Bird memiliki performa pelayanan yang optimal, baik dalam ketepatan waktu menjawab setiap pesanan, kondisi taksi yang nyaman dan bersih, serta kemudahan dalam aplikasi digital my bluebird. (*/Sir)