Penanganan Caleg Stres Pasca Pemilu Jadi Perhatian Kemenkes

oleh
Ilustrasi. (Ist)
banner 300250

Jakarta, suarabali.com – Stres pasca Pemilu dapat terjadi pada calon legislatif (caleg) yang gagal meraup suara terbanyak. Masalah yang berdampak pada kesehatan ini menjadi perhatian Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan dr. Fidiansjah menjelaskan, penyebab stres yang terjadi pada setiap individu tidak bisa diprediksi. Yang jelas, begitu daya tahannya rapuh, konsep dalam diri seseorang terjadi suatu gejolak antara cita-cita dan harapan, lalu realitas tak terpenuhi.

“Orang-orang yang rapuh menghadapi antara realitas dengan kenyataan bukan hanya pada Pemilu, tapi terjadi di semua kondisi. Untuk itu, prinsipnya di dalam penyeleksian pasti mengalami kemenangan atau kegagalan. Maka kesiapan menerima kenyataan, karena tidak sesuai yang diharapan harus bisa menerima. Prinsip pertamanya itu siap kalah dan menang,” kata dr. Fidi –sapaan dr. Fidiansjah, Selasa (16/4/2019).

Ketika caleg mengatakan proses ingin menjadi calon, kata dr. Fidi, itu ada surat keterangan kesehatan, termasuk kejiwaan. Terjadinya stres pasca Pemilu di anggapnya sebagai sebuah kejadian yang tidak biasa atau dianalogikan seperti bencana alam yang tidak dapat diprediksi.

Artinya, kejadian tidak lazim termasuk stres pasca Pemilu sama dengan stres pasca bencana. Bencana itu tidak ada yang menduga, hal sama juga pada Pemilu.

“Ini sebuah situasi yang diketahui banyak pihak sebagai sesuatu seperti kejadian yang tidak biasa atau bencana. Proses ini (Pemilu) adalah proses persaingan dan gangguan jiwa itu bisa terjadi dari ringan sampai tingkat berat,” katanya.

Berapa banyak caleg yang akan mengalami stres? dr. Fidi mengaku tidak bisa diprediksi. Namun, kata dia, sektor kesehatan tetap siaga untuk melayani masalah-masalah yang berhubungan dengan kejiwaan pasca Pemilu serentak ini.

Semua rumah sakit sudah diberikan arahan untuk betul-betul menyiapkan, bahkan mencoba untuk melakukan pengumpulan data berkaitan dengan gangguan jiwa.

“Ini situasi yang saya katakan pada dasaranya rumah sakit, seperti rumah sakit jiwa, siap dengan kejadian yang tidak biasa ini. Tapi, langsung melakukan sebuah penyesuaian, misalnya rumah sakit umum, Puskesmas, semuanya diberdayakan,” ucap dr. Fidi. (*)