Pemkot Denpasar Larang Penggunaan Sound System pada Malam Pengerupukan

oleh
Ogoh-ogoh. (Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Pemkot Denpasar melarang seluruh sekaa teruna dan komunitas masyarakat menggunakan sound system saat malam pangerupukan. Larangan ini bertujuan untuk menciptakan ketertiban dan kenyamanan masyarakat.

“Larangan itu juga bertujuan mempertahankan budaya Bali, termasuk tetap menggunakan alat musik tradisional Bali yang dimainkan oleh sekaa truna di Kota Denpasar,” kata Plt. Wali  Kota Denpasar, IGN Jaya Negara, beberapa waktu lalu.

Menurut Jaya Negara, penggunaan sound system saat pawai pengrupukan mengurangi makna, karena lebih baik menggunakan alat musik tradisional Bali sekaligus untuk menjaga kondusivitas.

“Memaknai hari suci ini tentu harus dengan bijaksana.Saya rasa masyarakat sudah sadar akan hal itu. Kreativitas anak muda juga sangat luar biasa. Hanya saja pemerintah memiliki kewajiban untuk mengingatkan,” ungkapnya.

Sebagai kota yang berwawasan budaya, Jaya Negara mengajak semua masyarakat Kota Denpasar, terutama sekaa teruna serta komunitas yang akan mengikuti dan melakukan prosesi pengarakan ogoh-ogoh, agar ikut menjaga ketertiban dan keamanan masing-masing.

Dia juga mengajak masyarakat untuk menjaga spirit Hari Suci Nyepi yang digunakan sebagai momentum mulat sarira dan mampu mengendalikan diri. Sehingga, tidak terjerumus melakukan hal-hal yang dapat memancing timbulnya suasana yang kurang harmonis.

“Mari kita jaga bersama dan lakukan prosesi ogoh-ogoh ini dengan tertib, sehingga tidak menimbulkan gesekan antar pengusung ogoh-ogoh yang dapat menodai kesucian hari raya Nyepi,” ujarnya.

Terlebih tahun ini merupakan tahun politik, dia berharap sekaa teruna maupun komunitas-komunitas yang ada dan menghindari konflik antar banjar maupun komunitas. Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk tidak mengonsumsi minuman keras maupun obat-obatan terlarang.

Jaya Negara berharap iring-iringan ogoh-ogoh ini menggunakan gamelan Bali, sehingga prosesi dapat berjalan dengan hikmat dan tertib. Untuk itu, dia berharap peran para kelian banjar, bendesa pakraman, pecalang, serta kades dan lurah agar ikut mengawasi warga masyarakatnya. Sehingga, pelaksanaan prosesi pengarakan ogoh-ogoh dan malam pangerupukan dapat berjalan tertib dan lancar.

”Peran tokoh-tokoh masyarakat adat ini sangat kami harapkan untuk ikut membantu dan mengawasi prosesi ini selain aparat kepolisian, Satpol PP, dan Dinas Perhubungan Kota Denpasar,” ujarnya.(Sir)