Pemkot Denpasar Bahas Pelaksanaan Hari Suci Nyepi yang Bertepatan dengan Saraswati

oleh
Plt. Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara memimpin Rakor membahas pelaksanaan Hari Raya Nyepi yang tahun ini bertepatan dengan Hari Suci Saraswati. (Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Pemkot Denpasar menggelar rapat koordinasi (Rakor) terkait pelaksanaan perayaan Hari Raya Nyepi Caka 1940 yang tahun ini bertepatan dengan Hari Suci Saraswati berdasarkan perhitungan Kalender Bali.

Rapat yang dipimpin Plt. Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara pada Selasa (66/3/2018) ini melibatkan berbagai pihak terkait seperti PHDI Kota Denpasar, Majelis Madya Desa Pakraman, Sabha Upadesa, Bendesa Pakraman se-Kota Denpasar, Parum Bendega, Parum Pekaseh, Pecalang, dan instansi terkait lainnya.

Dalam arahannya, IGN Jaya Negara mengatakan Pemkot Denpasar telah siap melaksanakan Hari Suci Nyepi Caka 1940 sesuai dengan arahan dan surat edaran PHDI Pusat. Kendati demikian, dalam edaran tersebut perlu dibahas terkait teknis pelaksanaan agar masyarakat mendapatkan informasi yang jelas.

“Jadi, di surat edaran jelas terdapat bahwa Hari Suci Saraswati dan Hari Suci Nyepi keduanya tetap dilaksanakan. Hanya saja  pelaksanaan Hari Suci Saraswati dilaksanakan sebelum pukul 06.00 WITA pada Sabtu (17/3/2018) atau sebelum pelaksanaan Catur Bratha Penyepian. Hal inilah yang perlu dilakukan penyesuaian terhadap pararem desa yang berlaku dan tata cara pelaksanaan agar masyarakat menerima informasi yang jelas,” papar Jaya Negara yang didampingi Kadis Kebudayaan Kota Denpasar IGN Bagus Mataram.

Dia menjelaskan, dalam setiap pelaksanaan Hari Suci Saraswati di Kota Denpasar, sebagai kota yang memiliki tingkat urbanisasi yang tinggi, tentu ada dua lokasi yang menjadi titik pusat pelaksanaan, yakni Pura Agung Jagatnatha dan Pura Agung Lokanatha.

Selain itu, sekolah yang menjadi pusat pengetahuan tentu menjadi salah satu lokasi pelaksanaan Hari Saraswati bagi siswa. “Inilah yang nantinya kita perjelas agar tidak menjadi permasalahan baru dalam pelaksanaannya nanti,” kata Jaya Negara.

Sementara Ketua Sabha Upadesa Kota Denpasar, I Wayan Meganadha, mengatakan jika dilihat dari sastra dan tattwa, pelaksanaan Saraswati sedianya dapat dilaksanakan di rumah masing-masing. Hal ini dikarenakan sanggah atau merajan yang ada di masing-masing pekarangan telah memiliki Bhatara Guru dan Bhatara Taksu yang merupakan simbol ilmu pengetahuan.

Namun, sekolah sebagai sumber ilmu pengetahuan juga tepat sebagai lokasi pelaksanaan Hari Suci Saraswati. “Jadi, secara sederhana dan dikarenakan bertepatan dengan Hari Suci Nyepi, pelaksanaan Hari Suci Saraswati dapat dilaksanakan di merajan dengan tidak mengurangi maknanya,” jelas Meganadha.

Meganadha menambahkan, dalam memaksimalkan pelaksanaan kedua hari suci tersebut, pihaknya mengusulkan agar pelaksanaan Ngarga Tirta Saraswati dilaksanakan sehari sebelumnya atau bertepatan dengan pelaksanaan Tawur Agung Kesanga.

Pun demikian, persembahan Hari Suci Saraswati tetap dilaksanakan pada Sabtu (17/3/2018) sebelum pukul 06.00 WITA atau sebelum pelaksanaan Catur Bratha Panyepian sesuai arahan PHDI Pusat.

Sedangkan untuk pelaksanaan Hari Suci Saraswati di sekolah oleh Suklinggih atau Pemangku tetap dilaksanakan. Hanya saja, khusus siswa lebih baik dilaksanakan di merajan atau sanggah masing-masing. Untuk saudara yang berasal dari luar Kota Denpasar, dapat melaksanakan persembahyangan Saraswati di Pura Agung Jagatnatha dan Pura Agung Lokanatha bersamaan dengan Tawur Agung Kesanga pada Jumat (16/3/2018).

“Jadi, itu sudah disepakati di luar adanya Pararem di masing-masing Desa Adat. Nanti ini akan dilaksanakan kordinasi dan mohon petunjuk lebih lanjut kepada Sulinggih,” katanya. (Sir)