Pastika: Sembahyang Orang Bali Terlalu Kuat, Gunung Agung Tidak Meletus

oleh
Gunung Agung
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Teka-teki jadi tidaknya meletus Gunung Agung terkuak saat Gubernur Bali Made Mangku Pastika menemui sejumlah wartawan di Kantor Gubernur Bali, Senin (30/10).

Pertemuan yang awalnya hanya ngobrol tentang Hari Raya Galungan itu merembes sampai soal penurunan status Gunung Agung dari level awas ke level waspada. Menurut Pastika, secara ilmiah dari pendapat para ahli, seharusnya Gunung Agung sudah meletus pada tanggal 23 September pukul 16.00 Wita.

Para ahli gunung api di Indonesia sudah memperhitungkan jika paling lambat yakni pada tanggal 23 September sore. Perkiraan sudah terbukti saat para ahli yang sama memperhitungan Gunung Merapi dan Gunung Kelud beberapa tahun lalu.

“Indonesia punya ahli gunung api walau hanya beberapa. Mereka sudah memperkirakan kapan meletusnya. Gunung Merapi tepat perkiraannya. Di Gunung Kelud hanya molor satu jam. Sementara Gunung Agung, para ahli sudah memperhitungkan, seharusnya sudah letus tanggal 23 September sore berdasarkan perhitungan cermat secara ilmiah. Tetapi buktinya salah. Kemudian diperpanjang lagi berdasarkan beberapa indikator bahwa minimal dua minggu dari tanggal 23 September akan meletus. Juga salah. Dan sampai sekarang belum meletus dan bahkan statusnya sudah turun,” ujarnya.

Menurut Pastika, fenomena ini dibahas saat rapat koordinasi di Jakarta yang dimotori oleh Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan.

“Tentang fenomena perkiraan letusan yang tidak tepat ini, Luhut mengatakan jika sembahyang orang Bali sangat kuat sehingga Gunung Agung tidak jadi meletus. Luhut mengatakan, sembhayangmu terlalu kuat, sambil menunjuk ke saya,” ujar Pastika disambut gelak tawa puluhan wartawan yang hadir.

Pastika mengaku, setelah perkiraan tanggal 23 September meleset, lalu perpanjangan dua minggu juga meleset, dirinya bersama Kepala Biro Humas dan Protokol Provinsi Bali Dewa Made Mahendra langsung menyambangi pos pemantau Gunungapi di Kecamatan Rendang.

“Saya tanya satu persatu kepada petugas. Saya harus tahu karena saya ini gubernur. Dan rakyat saya jadi korban. Kenapa belum meletus, dan apakah masih akan meletus. Secara ilmiah tetap sama sesuai dengan pengamatan seismograf, pengamatan satelit, pengamatana langsung, melalui kamera drone. Hasil tetap sama,” ujarnya. Itulah sebabnya statusnya diturunkan. Para ahli juga menggunakan parameter letusan sebelumnya di tahun 1963 lalu. Ternyata juga meleset.

Menurut Pastika, pernyataan Luhut memang ada benarnya. Para ahli juga mengakui kalau karakter Gunung Agung sulit ditebak.

“Bagi orang Bali, Gunung Agung itu memiliki makna spiritual tersendiri. Agung itu dalam bahasan spiritual Bali berarti besar, tinggu luhur dan suci. Itulah sebabnya semua orang Bali berdoa, memohon agar Gunung Agung tidak meletus. Bahkan, yang berdoa itu bukan hanya warga Hindu, yang non Hindu juga berdoa. Saya waktu mendatangi Pura Besakih, berdoa memohon agar Gunung Agung tidak meletus. Saya tidak tahu, tiba-tiba air mata saya menetes. Kalau saya tidak kuat, saya bisa kesurupan atau kerauahan. Karena Gunung itu adalah Gunung Agung. Penuh dengan kekuatan dan kesucian. Pertanyaanya, sudahkah mereka mempertahankan kesucian di sana, berapa banyak keangkuhan yang dilakukan orang di sana. Mari kita orang Bali introspkesi diri. Kenapa terjadi seperti itu. Tergantung ketulusan orang Bali sekarang, perlu perubahan sikap dan mental orang Bali. Bali itu ada taksu, getaran spiritual yang muncul dari tangan manusia,” ujarnya.

Setelah secara kelimuan meleset, Pastika meminta kenapa masih menyuruh orang mengungsi. “Saya bertanya seperti itu kepada petugas. Apa yang masih bisa dipegang lagi dari sisi keilmuawan. Karena semuanya meleset,” ujarnya.

Namun di sisi lain, masih ada pergerakan magma yang mutar-mutar. Ada juga perubahan penggelembungan kawah, ada perubahan perubahan rekahan di puncak kawah. Bahkan, gempa justeru terjadi di wilayah Tejakula, Buleleng yang jauh dari Gunung Agung. “Para ahli menjelaskan bahwa magma masih bergerak. Namun ketika akan mencapai permukaan, tenaganya melemah dan turun lagi. Ini benar-benar seperti manusia, yang perut kembung, lalu doa, maka segar lagi perutnya,” ujarnya. Karena potensi letusan masih ada, maka wilayah di 6 desa itu tetap mengungsi karena berada di radius 6-7,5 kilometer. (Ade)