Paguneman Dharma Ghosana Dharmopadesa Bahas Pangaskaran Ritatkala Pengabenan

oleh
Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta menghadiri acara Paguneman Dharma Ghosana Dharmopadesa Kabupaten Badung di Puri Agung Mengwi, Minggu (9/6/2019). (Ist)
banner 300250

Badung, suarabali.com – Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta menghadiri acara Paguneman Dharma Ghosana Dharmopadesa Kabupaten Badung di Puri Agung Mengwi, Minggu (9/6/2019). Acara ini diikuti 21 sulinggih yang berada di seluruh Bali serta bendesa adat se-Kecamatan Mengwi Mangu Kerta Mandala.

Selain bupati, acara yang membahas ‘Pangaskaran Ritatkala Pengabenan’ ini juga dihadiri Penglingsir Puri Ageng Mengwi AA Gde Agung, Kadis Kebudayaan Kabupaten Badung Ida Bagus Anom Bhasma, Kabag Humas Setda Badung Putu Ngurah Thomas Yuniarta, Camat Mengwi IGN Jaya Saputra, Angga Puri, dan para sulinggih.

Hadir sebagai narasumber dalam acara ini, di antaranya Ida Pedanda Gede Putra Yoga Gria Tegeh, Tunjuk Tabanan, dan Ida Pedanda Gede Wayahan Bun, Gria Sanur, Pejeng, Gianyar. Sementara penyaji/pemakalah adalah Ida Pedanda Gede Giri Dwija Guna, Gria Giri Sari Uma Ngenjung, Angantaka, Badung, dan Ida Pedanda Pedanda Gede Sakti Telabah, Gria Telabah, Kerobokan Badung.

Sedangkan moderator adalah Ida Pedanda Gede Wayahan Keniten, Gria Tengah, Semara Pura, Klungkung dan perumus adalah Ida Pedanda Gede Tajung, Gria Bukit, Bangli.

Ida Bagus Purba Negara sebagai ketua panitia acara mengatakan kegiatan Paguneman Dharma Ghosana Dharmopadesa mengenai Pangaskaran Ritatkala Pengabenan Alit memang sudah menjadi tugas dan kewajian serta swadarma dari Dharmopadesa dalam menjalankan dharmaning agama. Dalam hal ini untuk kembali memberikan tambahan pengetahuan maupun pemahaman mengenai proses pelaksanaan ajaran agama, salah satunya pengaskaran dalam pengabenan alit.

“Kita ketahui di Kabupaten Badung melalui Dinas Kebudayaan sudah menyosialisasikan tahapan-tahapan yang berasal dari sastra terkait pengabenan alit. Mekipun begitu, kami ingin menegaskan kembali mengenai hal itu,” jelasnya.

Hasil kegiatan ini akan dirangkum dalam sebuah buku, sehingga dapat disosialisasikan kepada krama sebagai dasar dalam melaksanakan ajaran agama,” imbuhnya.

Bupati Giri Prasta mengapresiasi kegiatan peguneman para sulinggih yang difasilitasi Penglingsir Puri Ageng Mengwi. Dia berharap hasil rapat sulinggih ini dapat dibukukan dan nantinya dapat disahkan serta dilakukan oleh seluruh umat, khususnya di Kabupaten Badung.

Penglingsir Puri Ageng Mengwi AA Gde Agung juga mengapresiasi Dharma Ghosana Dharmopadesa Kabupaten Badung yang mengikutsertakan sulinggih dari seluruh Bali dengan membahas kaitan dengan Pitra Yadnya, khususnya berkaitan dengan pengaskaran. Menurut dia, hal ini penting dipedomani oleh masyarakat.

“Hasilnya nanti dibukukan, terus disebarkan kepada masyarakat. Itu merupakan satu pedoman nanti, terutama bagi krama yang melaksanakan pengabenan yang paling kecil untuk meringankan mereka,” terangnya.

Penglingsir Ghosana Kabupaten Badung ini menyampaikan dalam panca yadnya, salah satunya ada pitra yadnya, yaitu ngaben. Dalam hal upacara ngaben, banyak masyarakat yang nunas kepada sulinggih agar dapat melaksanakan ngaben dengan biaya sedikit, yang disebut ngaben alit.

Mengenai ngaben alit ini, dari dulu sudah ada petunjuk yang dibuat oleh Pemerintah Kabupaten Badung. Namun, di dalamnya belum mencukupi pengaskaran.

Bupati Badung juga mengeluarkan buku Krama Ngaben Alit yang  juga belum berisi pengaskaran. “Namun, usaha dan inisiatif Bupati Badung ini patut diapresiasi,” katanya.

Tujuan peguneman ini agar dapat melahirkan petunjuk upacara pitra yadnya atau ngaben alit yang selesai (puput) di setra. Untuk itu, kata dia, para sulinggih penting membuat rumusan secara riil, tatwa, susila, dan upakara ngaben alit. Dari rumusan dan pemikiran para sulinggih ini nantinya akan dijadikan topik utama pembahasan dalam rapat selanjutnya pada wuku bala yang akan datang.

“Kami harapkan para sulinggih dan walaka untuk mengeluarkan pemikiran dalam peguneman ini. Semoga peguneman ini labda karya, sidaning don,” harapnya. (*)