Oscar Sebut Kelelahan Jadi Pemicu Meninggalnya Petugas Pemilu

oleh
Sekretaris Jenderal Kemenkes RI drg. Oscar Primadi, MPH. (Ist)
banner 300250

Jakarta, suarabali.com – Sekretaris Jenderal Kemenkes RI drg. Oscar Primadi, MPH mengatakan banyaknya petugas Pemilu yang meninggal dipicu oleh kelelahan. Hal ini dapat dipahami mengingat sebelumnya petugas tersebut telah mengidap penyakit tertentu sebagai faktor risiko.

Oscar mencontohkan seorang petugas yang meninggal memiliki penyakit jantung. Seharusnya seseorang dengan faktor risiko penyakit ini tidak boleh terlalu lelah. Namun, saat bertugas, ia dituntut menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan tepat. Inilah yang berdampak pada jantungnya.

Hingga saat ini, telah diterima laporan dari 17 provinsi yang menunjukkan bahwa meninggalnya petugas Pemilu bukan karena kelelahan, melainkan kelelahan menjadi pemicu penyakit yang diidap oleh petugas menjadi semakin parah.

“Kita melihat beberapa provinsi yang sudah kita dapatkan datanya. Kita melihatnya tidak ada hal yang berhubungan langsung (dengan kelelahan), tapi berkaitan dengan penyakit bawaan yang diderita petugas, di mana kelelahan menjadi trigger dari pada ini (meninggalnya petugas Pemilu),” kata Oscar di Jakarta, Senin (13/5/2019).

Terjadinya kematian itu, menurut Oscar, setelah diinvestigasi, korban memiliki penyakit dan terpicu karena kelelahan.

“Ada 13 penyakit, yang paling mendominasi jantung, kemudian infarct myocard, koma hepatikum, stroke, dan hipertensi. Ini penyakit-penyakit yang memang sisi angka Riskesdas 2018, penyakit ini banyak diderita oleh masyarakat kita. Ini yang memang berkaitan dengan penyakit tidak menular,” katanya.

Berdasarkan Riskesdas 2018, prevalensi stroke sebesar 10,9 per seribu penduduk, meningkat dari angka Riskesdas 2013 yang hanya 7 per seribu penduduk.

Penyakit jantung 1,5 % pada Riskesdas 2018, sementara Riskesdas 2013 menunjukkan prevalensi jantung koroner berdasarkan pernah didiagnosis dokter di Indonesia sebesar 0,5%, dan berdasarkan diagnosis dokter atau gejala sebesar 1,5 %. Prevalensi gagal jantung berdasarkan pernah didiagnosis dokter di Indonesia sebesar 0,13 persen, dan berdasarkan diagnosis dokter atau gejala sebesar 0,3%.

Untuk hipertensi Riskesdas 2018 menunjukkan angka 8,4% berdasarkan diagnosis dokter, dan 8,8% diagnosis berdasarkan dokter atau minum obat antihipertensi. Sementara pada Riskesdas 2013 menunjukkan 9,4% diagnosis dokter dan 9,5% diagnosis berdasarkan dokter dan minum obat antihipertensi.

Oscar juga mengatakan TPS yang banyak polusi asap rokok dapat memperburuk kondisi kesehatan petugas. Namun demikian, sebelum pelaksanaan pencoblosan pada 17 April 2019, Kemenkes sudah berkomunikasi dengan dinas kesehatan dan rumah sakit di daerah untuk waspada.

“Kemudian pada 22 April 2019, Kemenkes menegaskan dengan surat edaran untuk membantu mem-backup teman-teman (petugas Pemilu) yang bertugas di lapangan untuk menyiapkan posko kesehatan dan alhamdulilah itu bergerak seluruh Indonesoa dan kita backup betul,” katanya. (*)