Mulai Sore Ini Kapolri dan Panglima TNI Berkantor di Jayapura

oleh
Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian. (Ist)
banner 300250

Jayapura, suarabali.com – Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian bersama Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto mulai Selasa (3/9/2019) ini berkantor di Jayapura, tepatnya di Makodam XVII Cenderawasih.

Kedua petinggi TNI-Polri yang dijadwalkan tiba di Jayapura pada sore ini langsung menuju ke Makodam XVII Cenderawasih dan memberikan pengarahan kepada pejabat di lingkungan TNI-Polri.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol. Ahmad Kamal di Jayapura mengatakan, kehadiran petinggi TNI-Polri untuk menunjukkan bukti keseriusan pemerintah pusat menciptakan situasi yang kondusif di Papua dan Papua Barat.

Dengan hadirnya Panglima TNI dan Kapolri diharapkan masyarakat tidak lagi diliputi ketakutan hingga beraktivitas secara normal tanpa diliputi ketakutan akan terjadinya aksi demo anarkis.

Panglima TNI dan Kapolri akan berkantor di Jayapura selama lima hingga enam hari kedepan.

Sebelumnya, aksi demo anarkis yang terjadi pada Kamis (28/8/2019) sempat menyebabkan aktivitas di Jayapura dan sekitarnya lumpuh akibat sejumlah bangunan termasuk warung milik warga ludes terbakar.

Hingga saat ini warga yang rumahnya ludes terbakar masih mengungsi di Mako Lantamal X Jayapura. Aktivitas warga secara perlahan kembali pulih dan normal.

Sementara Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol. Dedi Prasetyo Prasetyo mengatakan polisi telah menetapkan 62 orang sebagai tersangka dalam kerusuhan yang terjadi di Papua dan Papua Barat.

Secara keseluruhan para tersangka diduga melakukan perusakan, pembakaran, makar, penghasutan di muka umum, pencurian dengan kekerasan, dan kepemilikan senjata tajam.

Untuk kerusuhan yang terjadi di Jayapura, aparat kepolisian menetapkan 38 tersangka dengan rincian 28 tersangka kerusuhan di Jayapura dan 10 tersangka ditetapkan untuk kerusuhan di Timika.

“Sekarang 28 yang sudah ditetapkan (tersangka), yang di Jayapura. Kemudian di Timika 10,” jelas Brigjen Pol. Dedi Prasetyo di Gedung Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (2/9/2019).

Sementara untuk kerusuhan yang terjadi di Papua Barat, polisi menetapkan 24 orang sebabagai tersangka dengan rincian tersangka kerusuhan di Sorong berjumlah sebanyak tujuh orang. Kemudian untuk di Fakfak sebanyak sembilan orang, dan delapan orang tersangka di Manokwari.

“Jadi 24 tersangka di Papua Barat,” terang jenderal bintang satu.

Dia menjelaskan para tersangka merupakan warga dan mahasiwa. Rata-rata para tersangka diprovokasi oleh massa perusuh.

Saat ini, Polda Papua dan Papua Barat, masih mendata kerusakan materil, baik properti maupun fasilitas publik, untuk jumlah korban aparat kepolisian masih mendata

Kerusuhan di Papua dan Papua Barat, dipicu kemarahan karena sikap rasis dan persekusi terhadap mahasiswa Bumi Cendrawasih di Surabaya, beberapa waktu lalu. Masyarakat Papua turun ke jalan yang berujung rusuh dengan merusak sampai membakar fasilitas umum. (*)