Mengusir Gelap dengan Cahaya (2)

oleh
Putu Agus Setiawan dan buku pertama yang ditulisnya. (Foto: Sir)
banner 300250

Buleleng, suarabali.com – Mengusir Gelap dengan Cahaya. Itulah judul buku kedua yang sedang dirancang oleh Putu Agus Setiawan. Jika buku pertama edisi revisi berjudul Berjuang Menembus Kemelut Kehidupan yang akan di-launching ke publik pada Februari atau Maret 2018, Agus Setiawan akan lanjut menulis buku keduanya.

Dalam buku kedua nanti, Agus ingin menulis kumpulan kata-kata motivasi yang bersumber dari inspirasi Agus sendiri. “Saya memang senang menulis. Jadi, kata-kata motivasi itu mengalir dengan sendirinya dalam pikiran saya,” kata Agus saat dibincangi suarabali.com belum lama ini di rumahnya, Dusun Yeh Anakan, Desa Banjarasem, Kelurahan Seririt, Kecamatan Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali.

Keterbasan fisik (difabel) tak meluruhkan semangat pria kelahiran Gianyar, 14 Februari 1987, ini untuk menulis. Tuhan telah menakdirkan Agus untuk mengisi hari-harinya dengan menulis buku yang memberi inspirasi bagi banyak orang.

Agus Setiawan mengalami disabilitas sejak berusia delapan bulan. Bermodalkan komputer (PC) bekas pemberian sahabatnya, Agus menggerakan satu jempol tangan kanannya untuk menekan tombol-tombol huruf pada papan ketik komputer. Kata demi kata pun terangkai menjadi kalimat yang mengandung makna yang kuat.

“Jari saya yang lain tidak bisa digerakkan. Saya mengetiknya dengan satu jari jempol saya,” kata Agus, yang di media sosial facebook dikenal sebagai Agus Kpopers.

Agus Setiawan mengetik huruf demi huruf dengan satu jari jempol tangannya. (foto: Sir)

Setiap hari, dari pagi hingga sore, Agus melakukan kegiatan yang sama. Butuh waktu selama tujuh bulan bagi Agus untuk menyelesaikan buku pertamanya yang berjudul Putu Agus Setiawan, Ni Komang Warsiki dan Perjuangan Menembus Kemelut Kehidupan, yang nantinya diterbitkan kembali dalam edisi revisi dengan judul Berjuang Menembus Kemelut Kehidupan.

Dalam buku itu, Agus menulis kisah tentang perjuangan ibu kandungnya, Ni Komang Warsiki, yang begitu sabar dalam merawat dan menghidupi dua anaknya, Putu Agus Setiawan dan Kadek Windari, yang mengalami cacat pada kaki dan tangannya.

Ayah Agus telah meninggalkan mereka sejak tahun 2014. Sebelumnya, hanya sang ayah yang membiayai penghidupan keluarga mereka dengan hasil kerja sebagai tukang ukir kayu. Sepeninggal ayahnya, mereka sempat mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Tak hanya masalah keterbasan fisik. Banyak kendala lain yang dihadapi Agus saat menulis buku. Mulai dari komputer yang rusak hingga naskah yang hilang karena listrik mendadak padam saat menuis buku. Semua itu tak melunturkan semangat Agus untuk terus menulis. Sebaliknya, kendala-kendala itu justru membuat Agus semakin matang dalam mengelola emosinya.

“Saya sering ngalami. Udah nulis beberapa halaman, eh tiba-tiba listriknya mati. Saat listrik sudah nyala, giliran komputernya yang rusak. Ya, saya sabar aja menjalaninya. Mungkin, itu menjadi proses pendewasaan bagi saya,” ungkap Agus.

Banyak hal yang memotivasi Agus untuk tetap semangat menjalani hidupnya. Dan, motivasi-motivasi itulah yang ingin dibagikan Agus kepada orang lain lewat bukunya.

Apalagi saat ini, Agus membaca berita di berbagai media, termasuk media sosial, banyak orang yang putus asa menghadapi berbagai masalah, lalu mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

Berbagai persoalan hidup itulah yang mendorong Agus semakin semangat menulis buku. Lewat buku-buku yang ditulisnya, Agus berharap dapat memotivasi banyak orang agar lebih tegar dan sabar menjalani hidup.

“Saya berharap agar siapa saja bisa termotivasi setelah membaca buku kisah hidup saya dan keluarga yang penuh cobaan. Dengan begitu, orang-orang tidak mudah menyerah dan memiliki semangat juang yang tinggi dalam menjalani hidup,” tutur Agus yang memiliki dua saudara: Kadek Windari dan Bunga Ayu Lestari.

Banyak pihak yang mendukung Agus untuk terus berkarya. Terbukti, buku pertamanya laris terjual dalam beberapa bulan saja. Padahal, promosinya hanya lewat media sosial facebook. Banyak orang yang membeli buku Agus dari kalangan tokoh. Sebut saja contohnya, Andi F. Noya, jurnalis alumnus Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta yang juga host Kick Andy. Ada juga Gede Hardi, pemilik Hardys, dan sejumlah pejabat tinggi di Bali dan luar Bali.

Agus dan keluarga pun tak henti-henti mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukungnya selama ini. Agus yakin, pasti ada hikmah di balik setiap peristiwa. Itu sebabnya, Agus akan menulis buku yang dapat memberi pencerahan kepada banyak orang. Rencananya, buku itu berjudul: Mengusir Gelap dengan Cahaya. (Sir)