Menggaet Wisman dengan Sistem Digital dan Nomedic Tourism

oleh
Menteri Pariwisata Arief Yahya. (Foto: Val)
banner 300250

Nusa Dua, suarabali.com – Menteri Pariwisata Arief Yahya menggali sistem pelayanan yang paling trend pada era digital dengan menerapkan sistem digital dan nomedic tourism guna mempercepat pelayananan terhadap wisatawan mancanegara (Wisman). Hal itu disampaikan Arief Yahya saat jumpa pers pada acara penutupan Rakornas Kementerian Pariwisata yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, Jumat (23/3/2018).

Kementerian Pariwisata bertekad membangun sistem digital dan nomedic tourism untuk menggaet wisatawan mancanegara. Salah satu hal yang sangat penting adalah aksestabilitas dan amenitasnya. Sehingga, mampu memberikan pelayanan yang maksimal terhadap wisatawan mancanegara.

“Karena apa, karena tidak ada bandara. Kita ke Banda misalkan, di sana enggak ada bandara. Padahal, Banda tidak kala indah. Kalau kita harus menunggu dibuat bandara di Banda, butuh waktu dua sampai tiga tahun,” katanya.

Saat ini, menurut Menpar, dengan adanya seaplane tidak perlu menunggu bandar di bangung. Sebab, seaplan mendaratnya di laut. Dari segi pembiayaan, pembangunan dermaga untuk mendarat seaplane hanya butuh dana kira-kira Rp 100 juta. Berbeda dengan pembangunan bandara yang membutuhkan dana hingga triliunan rupiah.

Begitu juga dengan akomodasi lainnya. Arif Yahya mencontohkan, tidak perlu membangun hotel bintang di Banda karena membutuhkan dana dan waktu yang tidak sedikit. Cukup dengan membangun glam cam.

“Jadi, aksesnya fleksibel amenitas namanya. Gedungnya juga fleksibel. Cukup membuat karafan yang bisa mobile,” katanya.

Selain itu, menurut dia, perlu dibangun home pot atau home stay yang bisa dipindah-pindah. “Kalau nanti Anda sebagai menteri datang lagi ke kawasan timur ini, ya buat saja dulu gabungan antara aksesnya seaplan untuk amenitasnya dan untuk nomadic tourism,” jelasnya. (Val)