Mengaku Hakim, Wanita Ini Marah saat Terjaring Operasi Yustisi di Karangasem

oleh
Belasan orang terjaring operasi yustisi di Karangasem, Selasa (22/5/2018). (Foto: Stw)
banner 300250

Karangasem, suarabali.com  – Seorang perempuan yang mengaku sebagai hakim marah-marah saat terjaring operasi yustisi di Karangsokong, Kabupaten Karangasem, Bali, Selasa (22/5/2018). Wanita yang tidak diungkapkan identitasnya itu tak mampu menunjukkan kartu tanda identitasnya saat petugas gabungan merazia tampat kosnya.

Lantaran merasa sebagai hakim yang bertugas di Karangasem, wanita itu bersikap arogan kepada petugas. Dia mengajukan berbagai pertanyaan kepada petugas, termasuk surat perintah tugas atas operasi yustisi tersebut. Dai juga mengacungkan jari sambil menuding petugas dengan nada keras.

“Ya, kami dituding-tuding oleh perempuan itu. Dia melarang kami memotret. Padahal, kami hanya menjalankan tugas sesuai SOP,” kata I Komang S, salah satu petugas dalam operasi itu.

Saat petugas meminta kartu identitasnya, wanita itu tidak bisa menunjukkan dengan alasan KTP-nya tertinggal di kantornya. Berdalih sedang mengejar waktu untuk sidang, wanita itu lantas naik mobil meninggalkan petugas.

Di Karangsokong, petugas gabungan menjaring 15 orang yang tinggal di sejumlah kos-kosan, karena tak mampu menunjukkan kartu identitas atau Kartu Tinggal Sementara (KTS). Sementara di wilayah Padang Kerta Kaler, petugas menjaring 17 orang penduduk pendatang, karena tak memiliki KTS.

Kepala Dinas Satpol PP Karangasem  I Ketut Wage Saputra mengatakan operasi yustisi digelar untuk memberikan efek jera kepada penduduk pendatang agar melengkapi surat sesuai peraturan di Karangasem.

“Ini dilakukan agar mereka patuh terhadap perda kependudukan. Selebihnya juga agar menjadi contoh bagi yang lain, sehingga tahu apa yang mesti dilakukan agar tidak terjaring kedepannya,” ujarnya.

Tak hanya itu, kata dia, sidak yuatisi juga sebagai langkah mengantisipasi masuknya teroris ke Karangasem.  (Stw/Sir)