Melongok Kehidupan Nelayan Ketika Angin Barat Bertiup Kencang

oleh
Asnawai, nelayan di Kabupaten Badung, yang terpaksa tidak melaut akibat angin barat yang bertiup kencang. (Foto: Mkf)
banner 300250

Badung, suarabali.com – Wajahnya terlihat murung. Matanya tajam memandangi ombak. Sambil bersantai dengan meluruskan kakinya, sesekali pria ini menyeruput kopi yang sudah tak panas lagi dari gelas plastiknya. Kepulan asap keluar dari mulut dan lobang hidungnya. Ia merokok.

Itulah sosok Asnawi. Nelayan yang ditemui suarabali.com saat bersantai di gubuk sederhana yang terbuat dari bambu dan beratap kain terpal di Pasar Kedonganan, Kabupaten Badung, Bali, Jumat (12/1/2018).

Sudah tiga hari Asnawi tidak melaut. Pria yang sudah menjadi nelayan sejak tahun 1990-an ini tak berani menyabung nyawa di tengah laut akibat musim angin barat yang melanda setiap tahun.

Nelayan terpaksa memarkir perahunya di pantai karena tidak bisa melaut. (Foto: Mkf)

“Rata-rata nelayan tidak berani melaut. Kalau nekat, bisa nyawa taruhannya,”  tutur Asnawai mengawali perbincangan.

Pria asal Desa Telung Rejo, Kecamatan Glemor, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur ini  menuturkan, nelayan harus bersabar menghadapi musim angin barat.  “Kami harus sabar menunggu tiupan angin reda. Kalau sudah reda, baru kembali berlayar mencari ikan di tengah laut,” kata ayah dari dua anak ini.

Menurut Asnawi, rata-rata nelayan di Kedonganan mencari ikan di Selat Bali, mulai dari perairan Kuta, Tabanan, hingga ke Jawa. “Memang kalau bulan satu (Januari)  seperti ini, angin barat kencang. Badai di tengah laut juga sangat tinggi,” ungkapnya.

Biasanya, kata Asnawai, angin barat akan hilang antara bulan dua dan tiga (Februari-Maret). Setelah angin reda, para nelayan akan kembali melaut mencari ikan.

Namun, kata Asnawi, ada juga nelayan yang nekad melaut saat angin barat masih bertiup kencang. “Sudah banyak kawan saya yang tewas,” ungkapnya dengan raut wajah sedih.

Saat tidak bisa melaut, menurut Asnawi, biasanya nelayan bekerja sampingan menjadi kuli bangunan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Musim kayak gini, pemasukan tidak ada. Malah pengeluaran yang banyak. Bisa merokok saja sudah syukur. Saya tertolong dari istri yang jualan ikan di pasar. Biasanya ikannya dapat kiriman dari beberapa tempat untuk dijual lagi. Kalau nelayan yang istrinya tidak punya kerjaan, rata-rata jadi kuli bangunan atau kerja sampingan lainnya,” ujarnya.

Ketika ditanya harapannya terhadap bantuan pemerintah untuk menompang kebutuhan sehari-hari, Asnawi hanya tersenyum tawar sambil mengembuskan napasnya.

“Kalau harapan sama pemerintah tidak ada. Karena ini angin barat memang sudah setiap tahun. Kita sabar saja menunggu angin barat reda,” katanya . (Mkf/Sir)