Lestarikan Warisan Budaya, Disbud Gianyar Gelar Lomba Dalang Cilik

oleh
Kepala Bidang Kesenian Disbud Gianyar I Wayan Darya menancapkan wayang pertama sebagai tanda pembukaan lomba dalang cilik wayang parwa di Balai Banjar Bangun Liman, Buruan, Blahbatuh, Gianyar. (Ist)
banner 300250

Gianyar, suarabali.com – Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Gianyar bekerja sama dengan Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kabupaten Gianyar menggelar parade lomba dalang cilik wayang parwa di Balai Banjar Bangun Liman, Buruan Blahbatuh pada 15 Desember 2019.


Kepala Bidang Kesenian Disbud Gianyar, I Wayan Darya membuka parade dengan menancapkan wayang pertama dan menyalakan api. Parade ini dihadiri ketua Pepadi Provinsi Bali, majelis Pepadi, camat, tokoh dalang Gianyar, dan OPD terkait di lingkungan Pemkab Gianyar.

Disbud Kabupaten Gianyar terus bersinergi dengan Pepadi dalam mengembangkan potensi pedalangan anak-anak se-Kabupaten Gianyar guna melestarikan warisan budaya. Gelaran acara terlihat meriah. Masyarakat tampak antusias menyaksikan penampilan dalang anak-anak tersebut.

Pada hari pertama, ada dua penampilan dalang cilik. Penampilan pertama dibuka oleh Ni Komang Laura Astina Pratiwi dari Sanggar Suara Murti asal Banjar Babakan, Desa Sukawati, yang mengambil cerita berjudul ‘Naga Sudarsana’.

Pratiwi menceritakan tentang kepungan dari Raja Kansa yang sangat kejam dan bengis. Krisna dan Baladewa diasuh oleh sang Nanda Gopo, ditempatkan di suatu daerah bernama Wraja Desa yang jauh dari Kota Madura. Suatu ketika dilaksanakan ritual yadnya pemujaan Dewa Siwa yang dilaksanakan di hutan Ambika. Tiba-tiba datanglah seekor naga dan membawa sang Nanda Gopo ke dalam hutan. Melihat kejadian tersebut terjadi kepanikan dan akhirnya terjadi pertempuran antara orang-orang Wraja Desa dan pengikut Nagaraja.

Penampilan kedua oleh Ketut Ayu Maha Pradnyasuari dari Sanggar Seni Gita Mahardika asal Banjar Babakan, Desa Sukawati. Pradnyasuari mengambil cerita berjudul ‘Gugurnya Sang Kesi’.

Dia menceritakan tentang kehidupan Kresna dan Kakarsana di Praja Desa dalam asuhan Sang Nanda Gopta. Pada suatu ketika kegembiraan dan ketenteraman seketika sirna, ketika Sang Kesi dan para Raksasa utusan raja Kangsa datang untuk membunuh Kresna. Dengan kesaktian Kresna, Sang Kesi dapat dibunuh dan desa kembali aman.

Pada hari kedua menampilkan dalang dari Sanggar Gita Ulangun dari Banjar Pesalakan Pejeng Kangin dan dalang dari Sanggar Suta Soma dari Desa Tegallinggah, Blahbatuh. Hari ketiga menampilkan dalang dari Sanggar Candra Bhuana, Banjar Griya Desa Melinggih Payangan dan Sanggar Adikara, Banjar Babakan Sukawati. Di akhir parade juga diisi penampilan eksebisi dari Sanggar Paripurna Blahbatuh yeng mendapat peringkat A terbaik III tahun 2018.

Kepala Bidang Kesenian I Wayan Darya mengatakan nantinya pemenang lomba dalang anak-anak tingkat kabupaten ini akan memperoleh uang pembinaan untuk memfasilitasi pengembangan potensi mereka. (*)