Kritisi IMF-World Bank, Prodem Bali Gelar Pameran Kartun

oleh
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Aktivis Prodem Bali bersama Koalisi Gerak Lawan menggelar pameran seni karikatur dan poster di Jatijagat, Kampung Puisi, Renon, Denpasar pada 10-13 Oktober 2018.

Pameran itu bertujuan untuk mengkiritisi pertemuan tahunan IMF-World Bank di Nusa Dua.

“Ini untuk menjaga akal sehat kita. Jangan menerima begitu saja tanpa memahami kepentingan di balik kebaikan mereka,” kata koordinator Prodem Bali, Nyoman Mardika.

Di banyak kasus, kata dia, kedua lembaga itu bukannya mendorong kemakmuran, tetapi justru ketergantungan.

Karya-karya yang dipajang adalah karya kartunis Bali Gus Dark. Sedang poster adalah karya Alit Ambara bersama Nobody Corp. Selain itu, ada juga karya mural oleh komunitas Jamur, karya komik serta lukisan yang langsung digarap di lokasi.

Sejumlah seniman asing terlibat dalam acara itu seperti dari Afrika Selatan dan Belanda.

Aktivis Prodem Bali I Gusti Ngurah Karyadi mengungkapkan, pameran ini dibingkai dengan tema “Dari Globalisasi ke Gombalisasi menuju Go-Balisasi”.

Globalisasi mengacu pada tujuan awal Bank Dunia dan IMF ketika didirikan untuk menciptakan persaudaraan dan kemakmuran pasca Perang Dunia.

Namun, kemudian terjadi gombalisasi dimana melalui pemberian utang, IMF justru membiarkan rezim-rezim korup seperti Orde Baru di Indonesia melakukan korupsi dan menyengsarakan rakyat.

“Sehingga rakyat hanya dapat gombal-gombalnya saja,” tegasnya.

Diharapkan ke depannya, berawal dari Bali, situasi itu akan berubah sehingga dari Bali akan kembali tercipta kemakmuran bersama.

Sementara Muhammad  Reza Sahib dari Koalisi Gerak Lawan menyebut, pameran itu merupakan bukti bahwa di Bali pun ada komponen yang bersikap kritis terhadap IMF.

“Kita bangga karena yang kita perjuangkan adalah kepentingan bersama bangsa ini, bahkan kepentingan masyarakat global,” tegasnya.

Dalam kasus Bali, dia berharap, pariwisata akan berkembang dengan akar budaya yang kuat yang menjadi keunggulan Bali dan tak terlalu mengharapkan investor besar yang justru akan merusak Bali.

Karena itu, dia mengaku kagum dengan Gerakan Bali Tolak Reklamasi yang terus berjuang menolak proyek tersebut. (*)