Kota Denpasar Jadi Tempat Belajar Revitalisasi Pasar Rakyat

oleh
Pasar Agung di Denpasar Utara mendapat pendampingan dan sertifikasi SNI dari Kementerian Perdagangan. (Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Keberhasilan Pemkot Denpasar merevitalisasi 34 pasar tradisional menarik minat sejumlah pemerintah daerah untuk belajar pengembangan pasar rakyat ke Kota Denpasar. Beberapa di antaranya adalah Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Trenggalek, Pemerintah Kota Palembang, Bappeda dan DPRD Kota Yogyakarta serta Universitas Gajah Mada.

Sejumlah Pemda tersebut berkunjung ke Denpasar pada 3-4 Oktober 2018. Mereka diterima oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Denpasar.

Keberhasilan pengembangan pasar rakyat di Kota Denpasar tidak lepas dari dukungan pemerintah pusat melalui Kementerian Perdagangan RI yang memilih dua pasar di Denpasar untuk diberikan pendampingan dan sertifikasi SNI, yaitu Pasar Agung dan Pasar Poh Gading.

Melalui kegiatan study tour di Pemkot Denpasar, rombongan secara umum berbagi permasalahan dan solusi terkait pengembangan pasar tradisional, seperti penanganan pasar tumpah hingga pengaturan zonasi pasar yang dilakukan Pemkot Denpasar.

Selain dalam hal fisik, keterbatasan SDM pengelola pasar dan pedagang, kenyataannya menjadi salah satu faktor penghambat pengembangan pasar tradisional di beberapa daerah tersebut. Itu sebabnya, rombongan mengapresiasi program sekolah pasar yang dilaksanakan Pemkot Denpasar.

Kabid Perdagangan Disperindag Kota Denpasar IGA Laxmi Saraswati mengatakan Pemkot Denpasar sejak tahun 2016 telah merintis program Sekolah Pasar untuk memberikan edukasi kepada pedagang tentang bagaimana mewujudkan pasar yang ramah, segar dan terpercaya.

“Hal ini penting untuk membuat masyarakat senang berbelanja di pasar tradisional sehingga berpengaruh meningkatkan daya saing pasar tradisional itu sendiri,” katanya, Senin (8/10/2018).

Melalui program itu, kata dia, Pemkot Denpasar berkomitmen bahwa  revitalisasi tidak hanya dilakukan dengan mengubah pasar secara fisik, tetapi juga mengubah pola pikir para pengelola dan pedagang di pasar.

“Sekolah pasar ini juga dibentuk sebagai kesempatan bertukar pikiran serta menyamakan gagasan inovasi dan kemajuan pasar rakyat kedepan,” ungkapnya.

Dari aspek pariwisata, Bappeda dan DPRD Kota Yogyakarta serta Universitas Gajah Mada juga tertarik untuk mempelajari bentuk pengembangan dan pengelolaan pasar tradisional di Kota Denpasar yang telah mengintegrasikan sektor pariwisata, budaya, dan lingkungan di wilayah perkotaan dengan baik, salah satunya Pasar Sindu Sanur.

Kondisi Pasar Sindu yang bersih dan tertata menjadi daya tarik bagi para turis di sekitar daerah wisata Sanur untuk berbelanja di pasar tersebut. Ditambah kenyamanan dalam berkomunikasi, dimana para pedagang rata-rata mampu berkomunikasi dengan bahasa Inggris. (*)