Koster Sebut Taksu Bali sebagai Magnet Wisatawan

oleh
Gubernur Bali Wayan Koster saat bertemu rombongan Fujian Province of China dan Pingtan Delegations di Jayashaba, Denpasar, Senin (15/7/2019). (Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Gubernur Bali Wayan Koster menerima audiensi rombongan Fujian Province of China dan Pingtan Delegations di kediaman Gubernur Bali, Jayashaba, Denpasar, Senin (15/7/2019). Dalam pertemuan ini, kedua pihak membahas jalinan kerja sama, khususnya sektor pariwisata.

Gubernur Koster mengapresiasi jalinan kerja sama yang akan dibangun dengan tetap berpegang teguh pada kearifan lokal yang tumbuh di tengah kehidupan masyarakat Bali. Pariwisata Bali tumbuh dan berkembang bernapaskan seni, budaya, dan agama. Sehingga, wajib untuk dipelihara, dijaga, dilestarikan, dan tetap dikembangkan agar tidak tergerus perubahan zaman.

“Bali merupakan pulau yang unik dengan berbagai kekayaan adat, tradisi, budaya, dan kearifan lokalnya. Semua itu menyatu dengan pelaksanaan agama dalam tatanan kehidupan masyarakat Bali yang sudah mendarah daging dan terpelihara dengan baik, bahkan diaktualisasikan dalam berbagai bentuk seni seperti tari-tarian, karawitan, kekawin, seni memahat, seni rupa, dan sebagainya,” ujar Koster.

Menyatunya kekayaan adat, tradisi, dan budaya, menurut Koster, telah menumbuhkan taksu tersendiri bagi Bali. Tak jarang juga telah menjadi magnet atau daya tarik bagi para wisatawan untuk terus mengunjungi Pulau Seribu Pura ini.

Itu sebabnya, Koster sebagai pimpinan daerah mempunyai kewajiban moral untuk tetap menjaga keajegan seni, budaya, dan tradisi. Memastikan semua itu terpelihara dengan baik dan masyarakat pun selama ini menghargai setiap kekayaan yang dimiliki Bali.

“Saya sebagai Gubernur Bali berkomitmen untuk melestarikan, menjaga, dan mengembangkan seni yang ada, serta menata tempat-tempat berkesenian yang ada. Melalui visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, kami akan menjaga alam, masyarakat dan kebudayaan Bali,” kata Gubernur yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan Bali.

Sementara Mr Cheng Sang Kuan selaku ketua rombongan, mengatakan kunjunganya bertujuan untuk belajar tentang konsep dan praktik lanjutan mengenai manajemen operasi pariwisata, perencanaan, dan konstruksi perkotaan yang diterapkan Bali.

“Dari hasil studi di Bali, nantinya akan dimanfaatkan sebagai perbandingan untuk membantu pembangunan di Pingtan, yang selama ini dikenal sebagai pulau pariwisata internasional,” ujarnya.

Di hadapan Gubernur Koster, Mr. Cheng Sang Kuan sempat memaparkan kondisi geografis Pingtan yang merupakan pulau terbesar kelima di Tiongkok. Dia mengatakan Pingtan terletak di bagian timur laut Provinsi Fujian, China, terdiri atas 126 pulau kecil dan 702 batu karang. Itu sebabnya, pulau ini dikenal sebagai pulau ribuan terumbu karang (coral).

Pulau tersebut memiliki luas daratan sekitar 392,92 kilometer persegi dan luas laut 6.064 kilometer persegi dengan populasi mencapai 440.000 jiwa.

“Provinsi Bali adalah tujuan wisata terkenal di Indonesia dan dunia, sehubungan dengan pemandangan alam dan manusianya yang indah. Ada banyak pengalaman dalam pengembangan industri pariwisata, manajemen operasi pariwisata, serta perencanaan dan konstruksi perkotaan yang patut dipelajari dari Bali. Saya berharap kedua tempat ini dapat memperkuat pertukaran dan kerja sama,” ujarnya.

Lebih jauh dia menyatakan, pemerintah pusat Tiongkok sangat mementingkan pengembangan terbuka Pingtan dan memberi Pingtan tiga zona unggulan, yakni ‘zona eksperimental, zona perdagangan bebas + pulau wisata internasional’.

“Pada bulan November 2011, pemerintah kami menyetujui ‘Rencana Pengembangan Keseluruhan Area Eksperimental Pingtan’, selanjutnya pada bulan April 2015, area Pingtan dari Zona Perdagangan Bebas Fujian secara resmi didirikan,” ucapnya.

Selanjutnya pada 8 Agustus 2016, Komite Pusat menyetujui ‘Pariwisata Internasional Pingtan’ dan program pembangunan pulau di kawasan itu. Secara khusus, pada 1 November 2014, Presiden Tiongkok Xi Jinping secara pribadi pergi ke pulau itu untuk memeriksa dan melukis cetak biru untuk pengembangan strategis ‘satu pulau, dua jendela dan tiga kabupaten’ untuk Pingtan, serta menjadikan Pingtan sebagai ‘jendela pembuka’ penting bagi China. (*)