Koster Kasih Kado Puisi ‘Kutitipkan Satu Hati’ untuk HUT ke-414 Kota Buleleng

oleh
Wayan Koster membacakan puisi bertajuk ‘Kutitipkan Satu Hati’ untuk memperingati HUT ke-414 Kota Buleleng. (Foto: Stw)
banner 300250

Buleleng, suarabali.com – Momentum peringatan HUT ke-414 Kota Buleleng yang pernah menjadi Ibu Kota Provinsi Bali disambut suka cita warga. Calon Gubernur Bali I Wayan Koster juga ikut berpartisipasi dengan mempersembahkan puisi bertajuk ‘Kutitipkan Satu Hati’.

Sebagai putra asli Buleleng, anggota DPR RI tiga periode ini memiliki kecintaan luar biasa terhadap daerah asalnya. Keinginan untuk memajukan kabupaten berjuluk Bumi Panji Sakti itu pula yang mendasari tekadnya maju dalam Pemilihan Gubernur Bali berpasangan dengan Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati yang diusung PDI Perjuangan.

Itu sebabnya, cagub yang dikenal dengan “Salam Satu Jalur” itu sangat memperhatikan pembangunan Buleleng atau wilayah Bali utara yang kondisinya masih tertinggal jauh dengan Bali selatan. Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah bagaimana memajukan dunia seni budaya dan tradisi yang menjadi kekuatan sekaligus daya tarik Bali.

Dalam rangka HUT Kota Buleleng, Koster mengajak sang istri Ni Putu Putri Suastini dan sejumlah koleganya untuk melihat perkembangan Museum Panji Sakti Lovina. Di meseum itu, Koster mendiskusikan berbagai hal, termasuk kondisi dunia berkesenian di Bali di tengah tantangan pada era modernisme.

Sebagai pemerhati budaya, Koster juga menunjukkan kesungguhannya seperti saat perayaan HUT Kota Singaraja. Bersama masyarakat, dia menyanyikan lagu berjudul ‘Dirgahayu Kota Panji Sakti’.

Bahkan, Koster juga mampu menghibur warga dengan membacakan puisi karya sang istri tercinta yang merupakan seniman perempuan Bali kenamaan. Judul puisi yang dibacakan Koster “Kutitipkan Satu Hati”.

Dengan penuh penjiwaan, bait demi bait mampu dilantunkan dengan penuh ekpresif oleh Koster bersama sang istri. Karuan saja, hadirin nampak terkagum dengan penampilan penuh penghayatan Koster bersama Putri saat mempersembahkan puisi.

Menurut Bunda Putri, sapaannya, puisi adalah hasil endapan hati yang dalam dan dituliskan dalam untaian kata. Puisi itu tidak hanya dibuat oleh seorang sastrawan atau penyair, tetapi semua orang bisa menulis puisi. “Puisi yang saya tulis, karena efek terdampar dari ruang waktu yang banyak sebagai ibu rumah tangga,” katanya.

Semua kalimat puisi yang dirangkainya itu dipersilakan pembaca atau masyarakat menafsirkannya sendiri. “Bisa menafsirkan A, B, tetapi saya punya jawaban tersendiri C,” tutur Bunda Putri.

Bunda Putri memang bukan nama baru di dunia kesenian di Tanah Air. Lebih 40 tahun dia malang melintang di dunia seni. Dia memiliki pergaulan luas di kalangan seniman, baik tingkat Bali maupun nasional.

Kini, istri Calon Gubernur Bali Nomor Urut 1 Wayan Koster itu memang sudah tidak aktif lagi seperti dulu di panggung seni yang melambungkan namanya.

Namun, dia tetap menyempatkan diri di sela-sela kesibukannya mendukung akivitas sang suami, Wayan Koster sebagai politisi, untuk menularkan semangat agar para seniman muda tidak takut untuk terus berkesenian. (*/Sir)