Koster Jelaskan Arah Pembangunan Bali Lima Tahun Mendatang

oleh
Gubernur Bali Wayan Koster. (Ist)
banner 300250

Gianyar, suarabali.com – Gubernur Bali Wayan Koster memaparkan arah pembangunan Bali di hadapan ratusan perangkat desa, perbekel, dan kelian se-Kabupaten Gianyar di Balai Budaya Gianyar, Sabtu (2/3/2019). Dalam kesempatan ini, Koster kembali menegaskan pembangunan Bali yang meliputi sekala dan niskala merupakan warisan leluhur orang Bali yang membedakannya dengan daerah lain.

“Bukan hanya secara lahiriah, tapi juga secara batiniah. Arah kebijakan yang juga menyentuh pendekatan niskala adalah keunggulan Bali yang tidak dimiliki daerah lain,” kata Koster.

Koster menambahkan, sesuai dengan visi ‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali’, dia berkomitmen menjaga kesucian dan keharmonisan sekala dan niskala yang telah turun-temurun menjadi kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang di Bali.

“Keharmonisan alam Bali berserta isinya melalui pembangunan yang terpola, menyeluruh, terintegrasi, dan berakar dari warisan leluhur kita. Konsep ini yang saya gali kembali dan merupakan pedoman dari pola pembangunan semesta berencana untuk ‘Bali Era Baru’ kedepannya,” papar Koster.

Menurut pria asal Buleleng ini yang juga Ketua DPD PDIP Bali ini, keseimbangan alam, manusia, dan budaya yang telah ada turun-temurun di Bali merupakan harga mati. Sehingga, apa-apa yang berakar pada kearifan lokal harus dijaga. Pengaruh modernisasi pun tak boleh merusak atau menghancurkan budaya yang ada.

“Kita harus sadar betul jika intervensi dari luar jika tidak ditangani dengan baik berpotensi menggerus budaya kita. Harus diperhitungkan dalam suatu sistem, sehingga Bali senantiasa nyaman, aman, dan damai,” tukasnya.

Menurut Koster, program-program yang telah dilajankan maupun yang akan dijalankan secara umum bersumber dari naskah-naskah kuno manusia Bali, dari konsep-konsep yang ditemukan dan disusun oleh leluhur orang Bali.

“Konsep seperti Tri Hita Karana, dicetuskan leluhur kita tanpa sarana pendidikan seperti sekarang. Namun, dapat diaplikasikan sepanjang masa dan menjadi akar budaya. Ini luar biasa menurut saya. Saya pelajari betul itu,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, mantan anggota DPR RI ini menjelaskan tentang beberapa regulasi atau peraturan yang telah dituangkannya dalam peraturan gubernur (Pergub) yang semuanya ditujukan untuk menjaga keharmonisan alam dan budaya Bali.

“Contohnya saja peraturan yang membatasi penggunaan plastik sekali pakai. Banyak yang memuji peraturan ini karena hasilnya jelas, tujuannya jelas, karena sampah plastik sudah demikian mengancam alam kita. Begitupun dengan peraturan penggunaan aksara Bali serta pakaian adat Bali, itu semua merupakan ciri khas kita, dasar budaya kita sebagai orang Bali yang harus kita tunjukkan,” katanya.

Koster mengatakan kini para pengusaha dan produsen pakaian adat Bali seperti ‘kebanjiran’ order mengingat Pergub tersebut mewajibkan minimal enam kali dalam sebulan untuk berpakaian adat Bali.

“Ada dampak langsung pula kepada pedagang, pengusaha, industri kecil kita di bidang pakaian adat Bali,” sambungnya.

Dalam waktu dekat, Koster juga akan gencar menyosialisasikan Pergub No. 99 Tahun 2018 mengenai penyerapan produk pertanian lokal di Bali agar mampu masuk ke hotel dan restoran.

“Ini wajib karena ada Pergubnya, sehingga pertanian dan pariwisata yang selama ini seperti jalan sendiri-sendiri bisa bersinergi. Pariwisata maju, petani pun bisa tersentuh keuntungan dari industri pariwisata. Hotel, restoran, ketering wajib menggunakan produk pertanian lokal dan tidak akan ada lagi kita temukan buah atau sayur petani kita yang busuk karena tidak laku,” tegasnya.

Sementara Bupati Gianyar I Made Mahayastra mengapresiasi Gubernur Bali Wayan Koster yang bertatap muka langsung dengan para perangkat desa dari penjuru Kabupaten Gianyar.

“Saya lihat hampir semuanya hadir untuk mendengar paparan Bapak Gubernur Bali mengenai program yang diljalankan agar kita semua di Kabupaten Gianyar khususnya, mengetahui seperti apa gambaran arah pembangunan dari gubernur terpilih,” kata Mahayastra.

Kabupaten Gianyar, menurut Mahayastra, sudah berkomitmen untuk mendukung program-program yang nantinya akan berjalan dengan konsep satu pulau, satu pola, dan satu tata kelola seperti yang dicetuskan Gubernur Bali dalam visinya.

“Kami di Gianyar menyatakan siap, bergeliat melangkah maju bersama serta tak meninggalkan ciri khas masyarakat kami yang adem, tenteram, dan santun,” bebernya. (*)